Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Villagepreneur: Strategi Peningkatan Kesejahtaraan Nelayan Melalui Kewirausahaan Partisipatif Demi Tercapainya Desa Nelayan Mandiri

doc. citizendaily.net
Pemuda Maritim - Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya telah mengukir bukti tentang ketangguhan bangsa Indonesia dalam mengarungi laut. Menyatukan nusantara dengan kekuatan armada yang andal dan pelaut yang ulung. Sejarah akan selalu bercerita tentang bagaimana kejadian masa lalu yang kemudian akan menjadi pelajaran untuk masa sekarang ini. Lalu bagaiamana dengan nelayan sekarang?

Saat berbicara laut, maka radar pikiran kita akan selalu mengarah  kepada ikan dan nelayan. Saat berbicara nelayan, maka kita akan berpikir tentang sebuah profesi rendahan bagi orang-orang yang tidak sekolah, miskin, dan tinggal di pinggiran kota. Itu adalah sebuah konsepsi yang telah mengakar didalam alam bawah sadar setiap orang, bahkan pada nelayan sendiri.

Saat ini profesi nelayan sudah banyak ditinggalkan karena alasan kesejahteraan. Laut tidak menyediakan lagi hasil tangkapan yang melimpah. Itu sejalan dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin mengatakan profesi nelayan Indonesia saat ini berkurang sangat signifikan. Tercatat selama sepuluh tahun terakhir nelayan Indonesia berkurang hingga 50%. Kondisi ini dinilai berdampak terhadap berkurangnya produksi ikan nasional.

Selain dari pada itu terdapat 5 (lima) masalah pokok terkait penyebab kemiskinan masyarakat nelayan, diantaranya: Kondisi Alam, Tingkat pendidikan nelayan, Pola kehidupan nelayan,  Pemasaran hasil tangkapan,  Program pemerintah yang belum memihak nelayan.

Atas dasar itu, villagepreneur hadir sebagai solusi dalam meningkatkan kesejahteraan kepada masyarakat nelayan. Konsep ini menerapkan partisipasi bermakna dari seluruh aspek masyarakat, Baik itu nelayan, istri nelayan, anak nelayan, tokoh masyarakat, dan pemerintah.

Indikator keberhasilan villagepreneur adalah nelayan setempat dapat merasakan kesejahteraan saat masa kekurangan hasil tangkapan, anak nelayan dapat mendapatkan pendidikan, keluarga dapat menabung untuk masa depan, nelayan mudah dalam menjual hasil tangkapan, dan keluarga dalam kondisi aman dan sehat sepanjang tahun. Indikator tersebut kemudian dijabarkan kedalam program Visit Desnel (mengunjungi desa nelayan).

Program ini menawarkan kepada masyarakat umum untuk menikmati pantai yang indah di sekitaran perkampungan nelayan. Ada banyak pundi-pundi penghasilan dari program ini seperti, istri nelayan bisa menjual cinderamata khas desa nelayan, menjual makanan olahan ikan, penyewaan perahu, penyewaan tempat istirahat, dan sebagainya. Hal ini tentunya mampu menjadikan kampung nelayan sebagai destinasi wisata baru. Akan tetapi, syarat keindahan dan kebersihan lokasi adalah hal yang utama. Untuk itu perlu adanya kesadaran bersama dari seluruh pihak baik masyarakat maupun pemerintah.

Selain itu juga dibutuhkan koperasi nelayan, ini adalah bagian terpenting untuk mengurangi sifat konsumtif nelayan. Mereka bisa menabung dan menyimpan uang mereka di koperasi ini. Selain itu melalui media koperasi, nelayan dengan mudahnya bisa memasarkan hasil tangkapan mereka. Koperasi yang akan memfasilitasi untuk menjual hasil tangkapan mereka. Untuk pemasaran villagepreneur di era digital ini sagatlah muda. Tidak perlu mengeluarkan dana yang besar dalam promosi visit Desnel. Cukup dengan propaganda media sosial yang tentunya didukung oleh kesiapan seluruh masyarakat kampung nelayan.

Kesimpulannya adalah Villagepreneur mendukung kesejahteraan nelayan kearah yang lebih baik dengan program visit desnel dan koperasi nelayan. Untuk itu diharapkan partisipasi bermakna dari seluruh aspek nelayan dalam program ini.


Alamsyah
Peserta Lomba HNN 2016

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply