Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Angin Kencang dan Gelombang Tinggi, Nelayan Terancam Kelaparan

Pemuda Maritim - Angin kencang dan gelombang tinggi masih melanda Perairan Aceh, sehingga mengakibatkan nelayan tradisional berhenti melaut dan mengancam mereka kelaparan.

Di sisi lain menyebabkan harga ikan melonjak tajam karena pasokan minim bahkan kosong. Para nelayan tidak mau mengambil resiko karam di laut dan lebih memilih mencari ikan, udang dan kerang di hutan mangrove (sungai) sebagai alternatif. Namun pekerjaan itu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Dari pengalaman setiap tahun, kondisi laut akan kembali normal awal tahun depan, mudah-mudahan cepat stabil agar nelayan kembali melaut,” harap nelayan baru-baru ini.

Pantauan di pesisir pantai seperti Ulee Lheu, Alue Naga, Lampulo (Banda Aceh), Krueng Raya, Lhoknga (Aceh Besar), ratusan kapal nelayan masih bersandar di tepi sungai dan pelabuhan.

“Kalau kondisi cuaca ini masih berlangsung lama lagi, ada harapan kami tak berpenghasilan lagi, “ungkap kalangan nelayan di Ulee Lheue, dikutip dari Waspada, Rabu (29/6/2016).

“Baru sepekan kami tidak melaut, lanjutnya, sudah banyak berutang pada toke boat dan pedagang sembako untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Coba saja angin kencang dan gelombang tinggi ini terus berlangsung, mau makan apa kami,” ketus Razali, nelayan di Ulee Lheu.

Ditanya kapan kira-kira kembali melaut, nelayan tersebut mengungkapkan karena tergantung kondisi cuaca di laut membaik. Untuk mengisi waktu luang selama tak bisa melaut, para nelayan memperbaiki perahu dan jaring yang robek. Namun, ada juga di antara mereka yang harus mencari nafkah dengan pekerjaan lain seperti menjadi buruh di pasar.

Dampak para nelayan tidak melaut menyebabkan pasokan ikan ke sejumlah pasar minim bahkan nyaris kosong. Ikan yang dijual dalam beberapa hari ini merupakan hasil tambak dan kolam ikan air tawar atau stok lama yang diawetkan. Harga ikan di Banda Aceh dan Aceh Besar melonjak 100 persen hingga 150 persen dari harga biasa.

Ikan tongkol dijual Rp50 ribu/ekor hingga Rp75 ribu per ekor, padahal sebelumnya Rp25 ribu/ekor hingga Rp35 ribu/ekor. Ikan di Pasar Banda Aceh dan Aceh Besar datang dari luar daerah.

“Para memasok terpaksa menambah ongkos transportasi lewat jalan darat, sehingga harganya melonjak tinggi,” kata Amir, pedagang ikan di Banda Aceh.

Sejumlah warga terpaksa mengalihkan menu makan ayam potong atau ikan asin yang harganya dinilai masih stabil.
Sumber : okezone.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply