Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Dilarang Beli BBM Pakai Jerigen, Nelayan Panarukan Bingung

Pemuda Maritim - Sejumlah nelayan tradisional sampan kecil (Calepak) sejenis jukong, di kawasan Pantai Panarukan, Kabupaten Situbondo, terpaksa gigit jari dan tak bisa melaut karena mereka tak bisa membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Padahal premium sangat di butuhkan oleh nelayan untuk bahan bakar jenset untuk penerangan bekerja di malam hari.

Pantauan suarajatimpost.com, bukan hanya nelayan yang kesal akibat larangan beli premium pakai jerigen. Bahkan hal itu juga dikeluhkan sejumlah masyarakat yang menggunakan bahan bakar tersebut seperti usaha sellep tepung, mesin bajak sawah juga masyarakat yang jauh dari SPBU yakni Kukusan dan Tambak ukir, karena akibat aturan tersebut, bensin eceran banyak yang tutup.

Kacung (64) salah satu nelayan mengatakan, Selain BBM jenis solar untuk bahan baku mesin pendorong. Premium di gunakan untuk jenset. “Karena selain untuk penerangan di malam hari, kami mencari cumi-cumi pakai alat pancing dan serokan, kalau cahaya kurang kami kesulitan mendapatkan hasil tangkapan,” ungkapnya.

Dikatakannya, Sulitnya mendapatkan premium bersubsidi di wilayah Kecamatan Panarukan dan SPBU Karangasem, dimana petugas dua SPBU tersebut hanya mengatakan itu keputusan pertamina, yang menurut alasan tersebut ngambang dan tidak jelas.

“Karena saya melihat mobil dan sepeda motor bahkan mobil berplat merah dan sejumlah kendaraan milik usaha besar tidak di larang, bedanya dia pakai mobil kami pakai jerigen, kenapa kami yang di larang membeli, sementara mereka dengan mobil besar di perbolehkan, ini sungguh kami tidak mengerti,” ujarnya kesal.

Hal senada juga dikeluhkan Yusmiati warga lain tidak kalah kesalnya sambil menunjukkan surat ijin dari Dinas Kelautan dan perikanan Situbondo, walaupun menunjukkan surat ijin dari Dinas perikanan mengaku masih dilarang membeli karena pakai jerigen. Walaupun menunjukkan surat ijin kenyataannya masih tidak bisa mendapatkan premium.

“Saya bingung pakai ijin juga tidak boleh terus kami harus bagaimana, apalagi ini tak ada plakat atau pemberitahuan resmi bahwa tidak bisa membeli premium bagi yang bawa jerigen,” katanya.

Ia menambahkan, Sedangkan ijin yang di keluarkan oleh Dinas hanya 50 liter solar dan 10 liter bensin. Namun, tetap tidak boleh ketika ditanya alasannya petugas SPBU hanya menjawab itu perintah pertamina.

“Jadi saya minta tolong ke Pemerintah daerah dan pusat kenapa kami di perlakukan seperti ini. Andai ada pengumuman dan aturan yang jelas atau premium langka kami masih bisa menerima. Tapi, hanya satu tangki kecil setiap harinya kami tidak bisa dapat dari 2 SPBU di Panarukan dan Karang Asem,” ujarnya.

Akibat aturan tersebut kebutuhan warga ratusan nelayan di Panarukan harus berhenti melaut dan sampan milik warga ABK-nya hanya 2 orang dan mesinnya 10 PK. “Itu kan tidak sebanding dengan mobil mewah berplat merah dan milik pengusaha yang menggunakan ratusan liter perhari,” pungkasnya.

Sementara itu, Petugas SPBU saat dikonfirmasi mereka enggan berkomentar. “Itu kebijakan pertamina, Mas,” ujar salah satu petugas sambil menutupi namanya. Sementara manager SPBU Panarukan saat akan dikonfirmasi sedang ke Bondowoso, menurut salah satu karyawan SPBU tersebut.
Sumber : suarajatimpost.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply