Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Gencar Lakukan Pemetaan Bawah Laut

Pemuda Maritim - Memetakan kondisi bawah laut tentu tak semudah memetakan apa yang tampak di darat. Butuh skill khusus. Alumni kita satu ini sudah beberapa tahun terakhir aktif melakukan pemetaan bawah laut. Tujuannya tentu untuk mengetahui sumber daya bawah laut. Termasuk jumlah dan potensinya.

Agar bisa mengetahui kondisi sumber daya bawah laut, pria yang pernah berkeliling Kepri- Singapura dengan kapal perang ini memanfaatkan analisis digital atau radar satelit. Di awal mula ia melakukan penelitian sekitar tahun 2001, mendapatkan data satelit bukanlah perkara mudah. Namun karena ia memiliki dasar ilmu mengenai remote sensing yang ingin ia kembangkan, kesulitan tersebut tak mau dijadikannya sebagai kendala.

“Awal mula saya terlibat dalam pemetaan terumbu karang di Natuna. Itu sebelum lulus sarjana. Setelah itu, saya tertarik mendalami mengenai citra satelit untuk bidang kelautan. Alhamdulillah diberi kesempatan untuk belajar di UGM. Sejak saat itu saya aktif melakukan pemetaan bawah laut. Bukan hanya terumbu karang saja, melainkan juga mengarah kepada pemetaan tumpahan minyak di laut,” paparnya kepada Riau Pos, Sabtu (18/6).

Banyaknya tumpahan minyak di badan laut, tepatnya Selat Singapura dan Selat Malaka meresahkannya. Pasalnya tumpahan minyak yang dibawa oleh kapal tengker tersebut berdampak langsung bagi kelangsungan hidup biota laut. Belum lagi kepada nelayan. Mereka juga merasakan imbas dari air laut yang tercemar limbah. Tak jarang mereka berhenti melaut.

Selat Malaka  sendiri merupakan lalu lintas kapal tangker yang sibuk. Sehingga pantai dan laut memiliki kerentanan tinggi terpapar minyak. Untuk memetakannya, ia menggunakan Citra Radar.

Dengan pemetaan yang ia lakukan, dapat diketahui daerah mana saja yang rawan terjadi tumpahan. Begitu pula sebaliknya. Daerah mana yang aman bagi nelayan untuk melaut.
Lebih dari itu, manfaat lain dari pemetaan bawah laut sebenarnya juga bisa sebagai data sah milik negara. Kita, sebagai daerah yang dicemari tumpahan minyak bisa meminta klaim terhadap pemilik kapal tangker yang bersangkutan. Jumlah klaim yang diajukan tentu berdasarkan kerugian yang dialami.

“Kerugian bisa diketahui tentu dari data potensi bawah laut yang kita miliki. Jika kita mengetahui apa saja potensi di sana baik jumlah maupun jenis, tentu kita mampu mengklaim pihak yang bersangkutan. Karena datanya ada dan lengkap. Sehingga mereka bersedia memberi ganti rugi. Selama ini memang kita sudah melakukan klaim ganti rugi, namun tak sepenuhnya dikeluarkan. Karena data bawah laut yang kita miliki tak lengkap. Sehingga kita belum mampu meyakinkan pemilik tengker mengenai kerugian yang sebenarnya kita alami,” lanjutnya.

Tindaklanjut dari penelitian tersebut, berdampak positif. Terbukti dengan dibentuknya Nasional Kontigensi Plan Protokol Tumpahan Minyak. Jika terjadi pencemaran, pihak tersebutlah yang langsung mengambil tindakan. Selain itu, kementerian mengalihkan lalu lintas yang terlalu padat di selat tersebut. Sehingga diharapkan potensi pencemaran juga bisa berkurang di daerah Selat Malaka.

Hingga saat ini, dosen di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Kepri ini masih terus melakukan pemetaan guna meng-update sumber daya bawah laut. Ia memetakan luas terumbu karang, potensi ikan dan potensi lain di pantai dan laut Kepri.

Sebagai Kepala Puslib Sumber Daya Pesisir dan Laut UMRAH, ia bertekad untuk menjadikan UMRAH sebagai penyedia data kelautan dan perikanan di Indonesia. Sehingga mempermudah Indonesia dalam mengklaim. Di samping itu, pemerintah juga tahu apa program yang cocok dilakukan di wilayah-wilayah tertentu
Sumber : riaupos.co

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply