Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » KEBERADAAN MAMALIA LAUT TERANCAM




Teman – teman tahukah kamu penyebab mengapa mamalia laut seperti paus dan lumba – lumba terdampar? Salah satu penyebab mamalia laut tersebut terdampar adalah kebisingan laut atau bisa dikatalan pencemaran suara yang ada di laut dimana hal tersebut mengganggu sistem sonar yang dimiliki oleh mamalia laut. 

WWF mengatakan “Terdamparnya paus dan mamalia laut di berbagai belahan dunia masih diselimuti misteri. Polusi suara semakin kuat diduga sebagai salah satu penyebabnya, setelah dilakukan autopsi pada 7 ekor paus yang terdampar di pantai Kepulauan Bahama. Terjadi gangguan pada indera pendengaran mereka dengan ditemukannya pendarahan didekat telinga dan didalam cairan otak mamalia laut dari ordo Cetacea tersebut.” Mamalia laut menggunakan sonar sebagai mata bagi mereka. Suara – suara yang mengganggu pendengaran mereka menyebabkan mereka sulit untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Hal tersebut dapat menyebabkan dampak  jangka panjang maupun jangka pendek. Selain dapat mengganggu suara yang dihasilkan oleh mamalia laut, kebisingan tersebut juga berdampak pada perubahan tingkah laku dan juga bisa menjauhkan mereka dari habitat asalnya. Dikutip dari WWF “Kegiatan eksplorasi dan pengeboran industri minyak dan gas di laut lepas, terutama yang menggunakan alat echo-sounder, serta pelayaran komersial, memproduksi suara di kisaran pendengaran paus, lumba-lumba, dan mamalia lautnya, yaitu 10 Hz - 200 kHz. Kisaran suara ini tumpang tindih dengan kisaran suara mamalia laut sehingga dapat membingungkan atau bahkan berakibat fatal bagi hewan-hewan tersebut. Mamalia laut terbesar di dunia, paus biru (Balaenoptera musculus), memproduksi suara dengan frekuensi sekitar 20 Hz. Manusia pada umumnya dapat mendengar percakapan satu sama lain pada kisaran 100 - 1000 Hz.”

Wilayah laut Indonesia merupakan salah satu wilayah terpadat di dunia. Ditempat inilah banyak kegiatan yaitu pengiriman barang, perdagangan dan aktivitas eksplorasi digunakan. Hampir seluruh wilayah laut Indonesia merupakan habitat penting atau jalur migrasi mamalia laut. Sekitar 18 spesies paus, serta 12 spesies lumba-lumba dan porpois ditemukan bermukim atau melintas di laut Indonesia, khususnya di kawasan Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle (Mustika et al., 2009). 

Selain polusi suara yang dijelaskan diatas, kegiatan penangkapan juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan mamalia laut tersebut terancam kehidupannya. Perlu adanya kerjasama dari segala pihak agar bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan dari kegiatan diatas khususnya dampak yang ditimbulkan bagi keberadaan mamalia laut. Hal ini dapat menjadi informasi untuk masyarakat luas terkait kegiatan manusia, konsekuensi dan dampak yang ditimbulkan. 


Oleh:
Putri Amalia Kirana  (Mahasiswa FPIK UNPAD)


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply