Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Kuburan Laut yang Mengerikan

Pemuda Maritim - Kematian di laut bagi orang tercinta adalah takdir buruk yang harus dihadapi oleh para penyintas dengan kengerian luar biasa.

Belum lama ini, beberapa foto beredar di media sosial tentang sebuah monumen sementara di lepas pantai Turki yang dibuat untuk mengenang sekitar 4000 orang pengungsi Suriah yang meninggal dalam perjalanan putus asa mereka mencari tempat aman di Eropa.

Dibuat dari 200 bongkah busa atau styrofoam, dihias dengan meyakinkan hingga mirip marmer, ‘Pekuburan Laut’ (Sea Cemetery) merupakan armada kecil kesedihan yang tak bisa tenggelam.

Ditambatkan pada jangkar yang membuat 'bebatuan' mengambang ini terombang-ambing oleh arus mengingatkan pada pekuburan para veteran perang.

Dengan nama dan angka tahun yang diukir, monumen ini tak bisa tenggelam dari kesadaran orang-orang yang melihatnya.

Batu nisan yang mengambang ini sengaja dibuat demikian untuk melambangkan ingatan yang tak akan pudar, betatapun pahitnya.

Namun gambaran ini memiliki kekuatan lain, yaitu mampu membuat kita memberi cahaya pada tradisi menghormati mereka yang tewas dalam perjalanan mengarungi laut.

Lautan tak henti memberi sarana bagi imajinasi para seniman dan penulis: apakah itu puisi Lycidas dari penyair John Milton yang dibuat tahun 1637 untuk mengenang teman sekelasnya yang tenggelam.

Atau lukisan J M W Turner Damai – Pemakaman di Laut, yang dibuat untuk mengenang sesama seniman David Wilkie, yang tenggelam di pantai Gibraltar pada tahun 1841.

Demikian pula stanza karangan William Wordsworth ditulis sebagai penghormatan bagi kakaknya, John, yang meninggal di tahun 1805 ketika memimpin kapal yang tenggelam di Laut Irlandia.
Mausoleum membeku

Atau juga pelukis Prancis Théodore Géricault yang melukis Rakit Medusa, yang menarik perhatian sesudah 132 orang terombang-ambing di rakit itu selama 13 hari di tahun 1816 menyusul tenggelamnya sebuah kapal perang yang sedang menuju Senegal.

Dilihat dari konteks Pekuburan Laut, pemandangan es berjudul The Wreck of Hope, yang dilukis di tahun 1823-24 oleh seniman Jerman Caspar David Friedrich, tiba-tiba tersegarkan dengan intensitas yang baru.

Dalam karya Friedrich yang dramatis, sebuah kapal bisa dilihat terbalik di tengah es Arktik yang berantakan dimana ujungnya yang meruncing tegak seperti batu nisan tajam mirip dengan tempat pemakaman jaman prasejarah.

Sekalipun terinspirasi, sebagiannya, oleh perjalanan penjelajah William Parry di tahun 1819 untuk menemukan Northwest Passage, visi Friedrich tentang permukaan laut yang dingin diterjemahkan menjadi mausoleum yang mengingatkan pada fantasi yang seram.

Diletakkan berdekatan dengan foto Pekuburan Laut, The Wreck of Hope seperti terbayangkan ulang sebagai semacam rasa hilang yang demikian besar.

Jika Anda ingin membaca tulisan ini dalam Bahasa Inggris, Anda bisa menemuinya di sini The haunting image of ‘sea cemetery’, dan tulisan sejenis ada di BBC Culture.
Sumber : www.bbc.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply