Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Masuki ZEEI, Kapal Nelayan Malaysia Diamankan

Pemuda Maritim - Satuan Pangkalan (Satlan) II Polair Polda Kaltim pada Selasa (31/5) berhasil mengamankan kapal ikan asing (KIA) jenis jongkong (long boat) milik nelayan asal Malaysia yang sudah memasuki Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) sekira pukul 10.00 Wita. Selain memasuki ZEEI di perairan perbatasan dengan titik koordinat 3° 51’ 130” LU - 118° 38’ 300” BT, kapal juga terindikasi melakukan penangkapan ikan secara ilegal di kawasan yang memang tidak jauh dari pulau Sipadan dan Ligitan milik Malaysia.

Dir Satlan II Polair Polda Kaltim Ajun Komisaris Besar Polisi Omad didampingi Koordinator Satlan II Polair Polda Kaltim Kompol Samosir mengatakan, keberhasilan menangkap KIA yang masuk di ZEEI ini berkat koordinasi pihaknya dengan Satker Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan. “Pihak Satker PSDKP Tarakan menginformasikan kepada kami terkait titik koordinat yang dimasuki KIA tersebut, bahwa KIA sudah masuk pada ZEEI,” tuturnya kepada Radar Tarakan, Kamis (2/6).

Berdasarkan informasi itu, pihaknya langsung mengirimkan petugas Satlan II Polair Polda Kaltim ke titik tersebut dan berhasil mengamankan enam orang di kapal tersebut, yang keseluruhannya merupakan warga Malaysia. Beberapa saat sebelum ditangkap, keenam nelayan ini sedang asyik memancing. Omad mengatakan ketika mereka diamankan, tidak ada perlawanan yang berarti dari keenamnya. “Selain mengamankan kapal, kami juga mengamankan mesin 40 PK, 8 set alat pancing, 1 bendera Malaysia dan ikan hasil tangkapan terdiri dari 5 ikan tuna, 7 ikan tenggiri, 5 ikan lemadang, yang beratnya lebih dari 100 kg,” jelasnya.

Diketahui juga, nakhoda kapal, Egal bin Pilmihani (38), tidak memiliki Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI). “Dari keenam warga Malaysia yang berhasil diamankan, Egal bin Pilmihani merupakan satu-satunya yang akan menjadi tersangka karena dia merupakan nakhoda kapal,” tuturnya.

Egal bin Pilmihani bisa dikenakan pasal 92 Jontu pasal 26 ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, dan atau pasal 93 ayat 2 Jontu pasal 27 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. “Acamannya di atas lima tahun,” ungkapnya. Omad mengimbau kepada nelayan Indonesia, khususnya di Tarakan, bila menemukan informasi terkait kegiatan illegal fishing yang dilakukan negara tetangga di wilayah Indonesia, diharpakan segera melaporkan kepada pihak terkait. “Laporkan kepada kami atau pihak terkait lainnya, agar bisa dilakukan penindakan,” jelas Omad.
Sumber : kaltara.prokal.co

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply