Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Pelabuhan Perikanan Bangka Dikepung Tambang 25 Persen Nelayan Jadi Penambang

Pemuda Maritim - KETUA Kelompok Nelayan dan Pengusaha Ikan Sungailiat (KNPIS), M. Nurlian atau akrab disapa Bujang menuturkan nelayan terancam gulung tikar akibat biaya operasional melaut yang semakin mahal ditambah risiko nelayan yang melaut di jam malam saat air laut pasang tak ayal membuat beberapa nelayan tak kuat dan beralih profesi menjadi buruh Tambang Inkonvesional (TI)

Sudah enam tahun, nelayan di Perikanan dan Pelabuhan Nusantara (PPN) Sungailiat dijanjikan pintu masuk. Namun, keberadaan alat berat PC yang mengeruk pasir di muara Air Kantung dianggap tak efektif menyelesaikan masalah karena tetap terjadi pendangkalan.

Muara Air kantung yang semakin dangkal menyebabkan nelayan datang berlabuh pukul 02.00 malam saat air pasang. Tahun 2011 saja sempat memakan korban nelayan yang kecapean menunggu air pasang, memasang jangkar yang kemudian tak terduga tercabut sehingga kapal terbalik. Dulu paling tidak nelayan dapat menentukan waktu melaut biasa pukul 13.00 WIB tanpa melihat waktu air pasang atau surut.

"Sekitar 25 persen nelayan beralih jadi pekerja tambang, kondisi TI kan terlalu bebas gak ada yang melarang segala macem akhirnya orang-orang ikut nambang. Masalah ini gak bisa clear karena banyak kepentingan gak mikir nasib nelayan" kata Bujang kepada Bangka Pos, Senin (13/6).

Bangka Pos edisi Senin (20/6/2016) membahas pendangkalan muara PPN Sungailiat

Menurut Bujang beberapa usaha sudah dilakukan dengan cara mealaporkan nasib nelayan kepada pihak Lurah, Camat, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Sekda, Bupati, Gubernur hingga Kapolda namun hingga kini belum diperoleh solusinya. Bahkan KNPIS pernah mendatangi Kementrian Kelautan dan Perikanan di Jakarta untuk menemui Menteri Susi Pudjiastuti tapi berhalangan karena bertepatan dengan peristiwa anaknya meninggal dunia

"Kita gak bisa menangkap ikan dalam jarak yang dekat karena udah ketutupan limbah dan lumpur. Menangkap ikan jarak jauh perlu modal besar, alat tangkap juga harus lebih besar. Dulu Bangka tu banjir sotong yang berkembang biak di dekat pantai namun terumbu karang tertutup lumpur gak bisa lagi deket cari barangnya (sotong)" ujar Bujang yang kini harus merasakan perbedaan jarak dari 5 mil dulu dan 10 mil sekarang mencari sotong.

Berdasarkan penuturan Bujang, selama ini nelayan diberikan kompensasi atas keberadaan kapal isap yang ditaksir mencapai 1 miliar. Dihitung per nelayan mendapatkan Rp.300.000 per tahun.

"2014 kemarin dapat Rp 250.000 tahun 2015 dapat Rp 300.000, tahun ini belum dapat. Nelayan gak minta kompensasi tapi yang penting keluar masuknya muara lancar," tutupnya.

Karena jarak melaut yang lebih jauh, nelayan kini tak menggunakan dompeng 1 silender lagi namun menggunakan mesin 4 hingga 6 silender. Minyak solar yang dibutuhkan sebanyak 7 drum dengan es balok yang lebih banyak 7-8 ton dalam sekali melaut. 
Sumber :  bangka.tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply