Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » APMI Menolak Penutupan Pulau Beras Basah


Pulau Beras Basah


Pemuda Maritim - Sejak Tahun 1950 an, Warga Sulawesi Barat khususnya Mamuju yang merantau ke Kalimantan Timur sudah mendiami beberapa pulau yang ada di Bontang, seperti pulau Tihi-tihi, Melahing, Salangan, Gusung dan salah satunya adalah Beras Basah, Sebelum Perusahaan PT.Pupuk Kalimantan Timur ,PT.BADAK.NGL ada dan Perusahaan Lainnya bahkan sebelum ada Kota Bontang itu sendiri., Beras Basah dijadikan sebagai tempat tinggal daerah Pesisir hingga saat ini lalu kemudian dijadikan sebagai destinasi wisata yang berdampak positif dengan terciptanya lapangan pekerjaan baru yang meningkatkan pendapatan masyarkat didaerah Sekitar.

Rencana Penutupan Pulau Beras Basah disetujui oleh Pemerintah karena dianggap keberadaanya mengganggu kelancaran alur navigasi kapal-kapal ke PT.Badak.NGL dan juga akan berdampak pada Kilang Refinery Pertamina nantinya yang akan mulai dibangun pada 2017 tahun depan. Selain daripada itu Pemerintah juga sangat kecewa dalam Hal ini Walikota Bontang dengan kondisi Beras Basah yang tidak terawat, pernyataan ini sangat mengusik dan membuat Gelisah Masyarakat yang notabene adalah Warganya yaitu para Pedagang-pedagang kecil dan penyedia jasa transportasi Beras basah yang jumlahnya tidak kurang dari 200an Kapal yang nantinya akan kehilangan mata pencaharian.

Melihat kondisi yang meprihatinkan ini Ali Ridho yang juga Ketua Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Kota Bontang beserta Ormas Pemuda Sulawesi Barat Kota Bontang, mengajak para Pemuda dan Masyarakat tetap konsisten berada di jajaran terdepan untuk Menolak Penutupan Beras Basah. Ketua APMI juga  menuturkan bahwa penutupan Destinasi Wisata Pulau Beras Basah adalah Kebijakan yang Kontradiktif berlawanan dengan Program Pengembangan Perekonomian berbasis Maritim, Seharusnya berjalan beriringan, Kami minta Pemerintah bisa lebih bijak atas permasalahan ini sehingga tidak ada yang dikorbankan, salah satunya menyediakan Alur lain yang lebih aman untuk Menuju Beras Basah tanpa menggangu aktivitas PT.Badak.NGL serta Pembangunan Refinery Pertamina. 

Ditambahkan lagi bahwa tingkat Safety di PT.Badak.NGL sangat luar biasa sehingga pada tahun 2012 Perusahaan ini mencapai International Sustainability Rating System  level 8 (ISRS 8) yang merupakan tingkatan tertinggi dan best practice dalam proses Safety Management untuk mengelola Resiko, maka sangat tidak mungkin menurut saya selama 30 Tahunan PT.Badak.NGL menganggap Pulau Beras Basah mengganggu/ tidak aman, Kenapa Persoalan ini baru Mencuat sekarang dan tidak dari dulu saat Perusahaan Pengolahan Gas PT.Badak.NGL pertama kali dibangun, Saya Pikir Masyarakat pada saat itu akan menerima karena potensi terbukanya lapangan kerja yang masih terbilang sulit. (HW)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply