Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Nyai Loro Kidul Dan Cita-Cita Poros Maritim Dunia

Sumber: indonesianspaceresearch.blogspot.com

Pemuda Maritim - Samudera Hindia atau yang lebih dikenal masyarakat pesisir selatan Jawa sebagai laut kidul (laut selatan) sangat identik dengan legenda Nyai Loro Kidul. Legenda ini eksis di masyarakat jawa, sunda bahkan batak. Di Sunda Nyai Loro Kidul dikaitkan dengan seorang putri kerajaan Padjadjaran yang diusir ayahnya karena ulah ibu tirinya lalu ia bunuh diri di laut selatan dan menjelma menjadi ratu pantai selatan. Lain lagi dalam mitologi Jawa Nyai loro kidul berbeda dengan ratu pantai selatan. Dikatakan bahwa nyai loro kidul merupakan jelmaan putri kerajaan padjadjaran, sedangkan ratu pantai selatan adalah sosok yang telah dahulu ada jauh sebelum kerajaan Padjadjaran itu sendiri berdiri.

Lain di jawa lain pula di Batak, masyarakat Batak percaya bahwa ratu pantai selatan adalah jelmaan dari keturunan raja di sana yang dibuang saudara-saudaranya karena perasaan iri (mirip kisah nabi Yusuf) sampai putri tersebut terdampar di pantai Banten dan singkat cerita ia menikah dengan Raja dari Jawa Timur yang sedang bertandang ke sana. Setelah menikah putri tersebut mendapat fitnah bahwa ia selingkuh sehingga ia harus dihukum mati, ketika itu raja tidak tega sehingga menyuruh ia kabur menaiki perahu dan kembali ke Banten namun naas dalam perjalanan di laut selatan perahu yang ditumpanginya karam dan menewaskan putri tersebut.
Entah dari mana datangnya mitos-mitos di atas, namun faktanya saat ini masyarakat kita sudah kadung familiar dengannya. Bahkan beberapa hotel di Jawa Barat, Yogyakarta dan Bali sampai-sampai menyediakan kamar khusus yang tidak boleh ditempati siapapun hanya untuk ditempati “Sang Ratu”.

Dampak dari adanya mitos tersebut, sudah sangat jelas mitos ini membuat kita sebagai bangsa maritim yang besar agak sedikit “terkekang”. Samudera Hindia yang sejatinya menyimpan banyak potensi bagi kita menjadi sia-sia akibat masyarakat kita yang takut untuk kembali “melaut”. Jika kita telusuri lebih jauh sejarah bangsa ini, sudah sangat jelas dahulu kita jaya di lautan. Dalam kisah yang terdapat di relief candi Borobudur bangsa ini telah mengarungi samudera hindia bahkan sampai dengan Madagaskar dengan Jung Jawanya. Pada masa kerajaan hindu-budha bangsa ini mampu memonopoli jalur perdagangan di lautan karena kedigdayaan armada lautnya. Lalu pada saat masa kerajaan Islam, lewat samudera hindia pula lah hubungan diplomatik dan bantuan militer dari kekalifahan utsmani bisa sampai ke nusantara untuk melawan Portugis yang berusaha menjajah bangsa ini. Dan lewat laut pula kerajaan Demak berusaha mengusir portugis dari malaka dengan mengerahkan galangan-galangan kapal di Semarang memproduksi kapal-kapal perang yang tangguh untuk melawan Portugis.

Potensi maritim yang sangat besar tersebut tentu disadari betul oleh para penjajah. Maka mereka berusaha memadamkan potensi tersebut dengan merubah perilaku masyarakat maritim kita menjadi masyarakat yang jauh dari kemaritiman. Juri Lina, penulis Swedia dalam buku "Architects of Deception- the Concealed History of Freemasonry" (2004) mengatakan bahwa ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu negeri. Antara lain: (1) kaburkan sejarahnya, (2) hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tidak bisa dibuktikan kebenarannya, (3) putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.

Agenda besar penjajah dalam mengaburkan sejarah kita adalah dengan membuat sejarah baru versi mereka dan membangkitkan mitos-mitos di masyarakat dengan perubahan-perubahan agar tujuan mereka tercapai. Skema ini bukan hanya terjadi dalam kasus nyai loro kidul, tetapi juga telah terjadi dalam banyak kasus. Ketika pada tahun 1920-an Prof. C.C Berg dari Leiden membawa naskah Kidung Sundayana (cerita Perang Bubat) ke Jawa yang sudah ia edit sedemikian rupa, orang-orang Sunda dan Jawa tanpa kritik dan selidik langsung mengamini. Maka sejak itu pula orang Jawa dan Orang Sunda terjebak dalam konflik penuh kebencian yang tidak jelas asal muasalnya. Sampai saat ini kadang kita menemui orang tua-orang tua kita yang melarang apabila anaknya (yang dari suku jawa) menikahi suku sunda atau pun sebaliknya.  Kita secara tak sadar, masuk perangkap C.C Berg yang tak lain adalah akademisi peliharaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. 

Oleh karena itu momentum kebangkitan kita sebagai sebuah bangsa yang ingin kembali menjadi poros maritim dunia hendaknya dijadikan waktu yang tepat untuk kita mengkritisi kembali sejarah-sejarah bangsa utamanya yang diciptakan oleh para peneliti era kolonial, karena bisa jadi dibalik penelitian mereka tersembunyi agenda besar untuk mengkerdilkan bangsa ini. Jika seluruh sejarah yang pernah kita pelajari di sekolah itu salah, maka kita harus berani memulai menulis sejarah bangsa yang sebenarnya dari halaman pertama.
JALESVEVA JAYA MAHE!


Penulis:  Muhammad Iqna Syarhuddin (Mahasiswa, Teknik Lingkungan Undip)


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply