Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Terjebak antara Aturan dan Realita, Perikanan di Malta, Laut Mediterania.


doc. indonesianindustry.com

Pemuda Maritim - Laut Mediterania atau Laut Tengah berhadapan langsung dengan Samudera Atlantik melalui Selat Gibraltar dan berhubungan dengan tiga benua sekaligus yakni Eropa, Asia dan Afrika. Perbatasan ketiga benua tentunya menjadikan Laut Mediterania menjadi bagian penting namun rentan untuk menimbulkan konflik antar benua. Hal ini dikarenakan oleh sumberdaya ikan dan laut harus di atur sedemikian rupa untuk ketiga benua tersebut khususnya terhadap beberapa negara yang berhubungan langsung seperti Siprus, Sisilia, Majorca, negara Afrika bagian utara dan Malta.

Malta merupakan salah satu negara Eropa yang berhadapan langsung dengan Laut Mediterania. Berbatasan dengan Sisilia dan pesisir Afrika Utara. Memiliki sumberdaya ikan yang khas dan dijadikan sebagai salah satu ikon yang dijual untuk menarik wisatawan seperti Sunday Fish Market.Sunday Fish Market di Marsaxlook, pasar ikan yang khusus beroperasi pada hari minggu, terkenal dengan ikan-ikan segar langsung dari Tempat Pendaratan Ikan (TPI). Ikan-ikan yang ditawarkan di pasar ikan Marsaxlook beranekaragam mulai dari tuna, red mullet, swordfish, lampuki (dolphinfish) hingga cumi dan oktopus.

doc. pribadi

Semenjak bergabung dengan Uni Eropa (UE) pada tahun 2004, Malta memiliki kewajiban untuk mengikuti peraturan perikanan yang di atur dalam Common Fisheries Policy (CFP) seperti: cara penangkapan, alat tangkap yang digunakan, jumlah ikan yang diperbolehkan ditangkap (quota) serta di daratkan di TPI. Namun, tidak semua aturan dari UE dapat dilaksanakan. Hal ini dibuktikan masih banyaknya praktik-praktik penggunakan alat tangkap yang tidak sesuai dan hasil tangkapan yang tidak didaratkan di TPI oleh Nelayan.

Sebagian besar nelayan di Malta merupakan nelayan dengan tipe perikanan rakyat Mediterania (artisanal fisheries) yang menggunakan alat tangkap beragam (multi-gear). Oleh karena nya tidak dapat selektif dalam menangkap ikan.  Selain itu, nelayan di Malta juga beroperasi dengan kapal skala kecil dan tak jarang melakukan penangkapan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekedar menjalankan hobi dan bukan sebagai profesi utama. Artinya, ikan-ikan yang ditangkap tidak didaratkan di TPI melainkan langsung untuk konsumsi rumah tangga atau dijual langsung.  Sebagai konsekuensinya, banyak ikan-ikan yang di produksi melalui penangkapan ini, namun tidak tercatat. Hal ini bertentangan dengan aturan yang telah tercantum dalam CFP bahwa setiap ikan yang ditangkap harus didaratkan di TPI untuk pendataan/pencatatan.

Aturan yang mengikat dalam CFP banyak dikeluhkan oleh nelayan Malta. Hal ini dikarenakan bahwa di area penangkapan (fishing ground) yang sama, nelayan dari negara Afrika bagian utara tidak terikat dengan peraturan tersebut. Menteri Perikanan, George Pullicino mengatakan bahwa nelayan Malta bekemungkinan akan dirugikan dengan aturan dalam CFP terkait dengan kuota yang diperbolehkan ditangkap dan aturan alat tangkap yang boleh digunakan, semantara negara Afrika bagian utara tidak. Malta terjebak antara aturan UE dan realita.

[Agustin Capriati - WUR]

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply