Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Urgensi Kurikulum Maritim untuk Poros Maritim Dunia

Oleh: Ahlan Zulfakhri, ST *)
Perjalanan Indonesia menuju poros maritim dunia merupakan perjalanan yang cukup panjang. Pasalnya setelah hampir lima dekade pembangunan Indonesia senantiasa berorientasikan ke darat, namun saat ini secara mengejutkan presiden memutar arah visi menjadi maritim. Bahkan tidak tangung-tangung presiden langsung mencanangkan menjadi poros maritim dunia. Artinya Indonesia dipersiapkan menjadi salah satu negara yang mempunyai pengaruh besar dalam aktivitas maritim dunia.

Secara geografis, Indonesia memiliki potensi yang cukup luar biasa berada di antara dua benua dan dua samudera. Jika potensi tersebut mampu dimanfaatkan secara maksimal bukan tidak mungkin Indonesia mampu menguasai aktivitas maritim dunia. Melihat kondisi tersebut tentunya seluruh elemen bangsa sepatutnya mendukung dan memberikan sumbangsih pemikiran demi terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia, tidak terkecuali bidang pendidikan yang menjadi dasar terbentuknya karakter dan perilaku para generasi penerus.

Pembangunan maritim Indonesia terdiri dari dua aspek yakni pertama adalah pembangunan secara infrastruktur. Kemudian yang kedua adalah pembangunan secara karakteristik atau kepribadian individu masyarakat Indonesia (SDM). Kedua hal tersebut tentunya tidak dapat dipisahkan karena satu sama lain saling berkaitan. Untuk itu pemerintah perlu melakukan revitalisasi terhadap kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan dua hal tersebut jika benar-benar ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Jika melihat perencanaan yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 terlihat jelas bahwa pembangunan infrastruktur kemaritiman menjadi prioritas. Tentunya jika kita ingin memberikan penilaian terhadap kinerja visi presiden pada masa akhir jabatannya, harus diukur dari infrastrukturnya dan berapa banyak kapal, pelabuhan, galangan serta infrastruktur lain yang dapat dibangun selama lima tahun. Kemudian parameternya jelas dan dapat dilihat bagaimana infrastruktur pendukung visi presiden dapat terlaksana. Namun, sayangnya pembangunan maritim bukan hanya mengacu kepada infrastruktur, tetapi juga bagaimana SDM Indonesia mampu menjadi tenaga ahli di negerinya sendiri.

Meihat latar belakang tersebut pemerintah diharapkan perlu mempunyai parameter yang jelas terhadap pembentukan SDM maritim yang mumpuni, agar dapat mendukung Indonesia sebagai poros maritim dunia. Pembentukan SDM yang mumpuni dapat dilakukan dengan pembenahan kurikulum yang merepresentasikan visi maritim Indonesia. Untuk itu pembahasan kurikulum maritim dalam bidang pendidikan merupakan hal yang sangat krusial saat ini. Jangan sampai Indonesia bicara mengenai poros maritim dunia namun ternyata tidak mampu didukung oleh SDM yang mumpuni.

Kurikulum maritim menjadi poin penting setelah lebih dari satu tahun visi maritim Jokowi saat ini terlihat hanya concern dalam pembangunan infrastruktur. Hal tersebut tentunya tidak berjalan seimbang dengan SDM yang seharusnya menjadi pendukung visi maritim Indonesia. Selanjutnya bagaimana efektifitas berjalannya program revolusi mental yang seharusnya mampu menjadi ujung tombak pembentukan karakter maritim Indonesia pun belum mampu berjalan secara optimal. Pemerintah tentunya harus mampu melihat hal tersebut, dikarenakan pentignnya SDM sebagai penggerak sekaligus pendukung utama terwujudnya visi maritim presiden.

Kurikulum maritim juga harus mampu memenuhi 2 aspek, pertama adalah aspek hards kill. Kemudian yang kedua adalah Softskill. Kedua kemampuan tersebut harus mampu dimiliki oleh individu Indonesia, karena tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kemampuan hard skill sangat bergantung kepada kemampuan kognitif yang berhubungan dengan skill individu. Tentunya kemampuan tersebut dapat dilihat dari berapa banyak tenaga ahli Indonesia yang memiliki sertifikasi mengenai pembangunan kapal, pelayaran, budi daya perikanan dan kelautan, garam, lingkungan, pariwisata maritim dan lain sebagainya. Kemampuan tersebut merupakan kemampuan dasar yang mampu dimiliki oleh masing-masing individu untuk dapat mendukung pembangunan maritim Indonesia.

Tentunya kemampuan hard skill dapat didorong dengan memiliki parameter yang cukup jelas. Salah satu contohnya berapa banyak Professor dan Doctor di bidang kemaritiman. Tentunya dengan memiliki jumlah yang jelas, pemerintah mampu mengukur bagaimana tenaga ahli dapat mendukung pembangunan maritim Indonesia. Perjalanan menuju poros maritim dunia akan menjadi utopis jika ternyata pemerintah tidak memiliki parameter yang terukur terhadap jumlah tenaga ahli yang merupakan elemen pendukung utama pembangunan maritim.

Selanjutnya berapa banyak penelitian maritim yang mampu diimplementasikan baik secara industri besar ataupun industri kecil. Ini menjadi sangat penting ketika bicara mengenai penelitian. Erat hubungannya dengan kemampuan SDM Indonesia untuk mengeluarkan gagasan dan inovasi. Akan sangat ironi jika bicara mengenai pembangunan maritim Indonesia ternyata banyak dari pembangunan infrastruktur menggunakan teknologi dan tenaga asing. Hal tersebut tentunya harus menjadi perhatian pemerintah untuk dapat membentuk karakteristik individu maritim yang kuat.

Kemampuan selanjutnya adalah soft skill. Kemampuan soft skill adalah kemampuan interpersonal individu untuk mampu dapat beradaptasi dengan lingkungannya, tenggang rasa, kemampuan memimpin, public speaking, dan yang berkaitan dengan niat untuk kemajuan maritim. Pada intinya kemampuan soft skill menjadi sangat penting ketika bicara mengenai kemampuan seseorang yang membawa dirinya terutama dalam hal kepemimpinan. Karakter ini sangat penting mengingat visi besar Indonesia menajdi poros maritim dunia, yang berarti Indonesia menjadi pusat kekuatan kemaritiman dunia dan butuh suatu ocean leadership.

Muara Kurikulum Maritim

Ketika Indonesia sebagai pusat maritim dunia bisa dipastikan seluruh aktivitas maritim mulai dari perdagangan, teknologi, sampai pendidikan akan berpusat atau megacu kepada Indonesia. Sudah pasti dengan seperti itu jika Indonesia ingin seutuhnya mewujudkan hal tersebut, pemerintah tentunya juga harus memiliki parameter yang terukur pengembangan perusahaan lokal, koperasi, dan UKM yang bergerak dalam bidang maritim dapat tumbuh pesat di Indonesia.

Ini menjadi penting mengingat Indonesia akan menjadi pusat kekuatan maritim dunia, jangan sampai Indonesia hanya dijadikan tempat transaksi aktivitas maritim, namun ternyata perusahaan lokal yang terlibat dalam aktivitas tersebut sangat minim. Ketergantungan terhadap asing nantinya akan sangat besar, padahal potensi lokal Indonesia sangat besar, yang mana pemerintah harus mampu memperhatikan hal tersebut.

Kurikulum maritim saat ini menjadi sesuatu yang cukup mendesak, dan tentunya harus mampu memiliki parameter yang terukur baik secara kwalitatif maupun kwantitatif. Hal tersebut dilakukan sebagai sebuah upaya pemerintah untuk lebih serius dalam melakukan pembangunan maritim yang berkelanjutan. Parameter dan standart yang jelas akan mendukung Indonesia sebagai poros maritim dunia. Jika maritim merupakan harapan bagi kesejahteraan bangsa, maka pendidikan menjadi salah satu tulang pungung terwujudnya negara maritim yang seutuhnya.

*) Penulis adalah Sekjen APMI (Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia), Bekerja di Perusahan Galangan Kapal Korea Selatan

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply