Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Indonesia Kaya Laut tapi Impor Garamnya 90%

Pemuda Maritim -  Indonesia memiliki lautan nan luas, tapi aneh kalau garam saja harus impor dalam jumlah banyak.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bertekad untuk membantu pengembangan pabrik garam industri dan farmasi di tanah air. "BPPT melakukan kontrak kerja sama untuk pelayanan teknologi kepada PT Garam untuk perencanaan dua pabrik garam industri di Sampang, Madura," kata Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT, Imam Paryanto di Jakarta, Selasa (16/8/2016).

Kata Imam, PT Garam (Persero) berencana membangun dua pabrik garam industri khusus untuk pangan olahan. Rencananya, pabrik tersebut berkapasitas 2 ton per jam, dan 10 ton per jam.

Sebelumnya, Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan, kebutuhan garam di Indonesia, mulai dari garam farmasi, industri, hingga makan, cukup besar. Untuk memenuhi kebutuhan garam, Indonesia harus impor dari Cina, India, dan negara-negara lain.

Kebutuhan garam industri di Indonesia, kata Priyanto, mencapai 1,2 juta ton per tahun. Sedangkan kebutuhan garam makan, mencapai satu juta ton per tahun.

Sementara kebutuhan garam farmasi untuk infus dan berbagai macam obat-obatan, sebanyak 6 ribu ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan itu, didatangkan garam impor sebesar 90%.

BPPT sebelumnya telah bekerja sama dengan PT Kimia Farma memproduksi garam farmasi sebanyak 2.000 ton per tahun. Produksi garam ini diharapkan dapat ditambah 4.000 ton per tahun, sehingga dengan demikian ketergantungan 95 persen impor akan tergantikan.

"Paling tidak satu atau dua tahun ke depan kebutuhan garam industri yang sampai 1,2 juta ton itu bisa terpenuhi kalau pabrik yang dikembangkan mulai berproduksi," ujar Unggul

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan garam makan, ia mengatakan BPPT telah melakukan kerja sama dengan Pemerintah Daerah Jeneponto untuk membantu meningkatkan produksi pengolahan garam rakyat dengan teknologi.

Menurut Unggul, sejak 1992, BPPT telah melakukan penelitian garam farmasi. Namun tidak dikembangkan lebih lanjut, karena tak ada yang tertarik. Kali ini, prototipe teknologi produksi garam farmasi dibuat lebih besar, dan disertifikasi. "Baru ditawarkan lagi sekarang, dan akhirnya ada yang tertarik," pungkasnya.
Sumber : ekonomi.inilah.com
Indonesia memiliki lautan nan luas, tapi aneh kalau garam saja harus impor dalam jumlah banyak.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bertekad untuk membantu pengembangan pabrik garam industri dan farmasi di tanah air. "BPPT melakukan kontrak kerja sama untuk pelayanan teknologi kepada PT Garam untuk perencanaan dua pabrik garam industri di Sampang, Madura," kata Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT, Imam Paryanto di Jakarta, Selasa (16/8/2016).
Kata Imam, PT Garam (Persero) berencana membangun dua pabrik garam industri khusus untuk pangan olahan. Rencananya, pabrik tersebut berkapasitas 2 ton per jam, dan 10 ton per jam.
Sebelumnya, Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan, kebutuhan garam di Indonesia, mulai dari garam farmasi, industri, hingga makan, cukup besar. Untuk memenuhi kebutuhan garam, Indonesia harus impor dari Cina, India, dan negara-negara lain.
Kebutuhan garam industri di Indonesia, kata Priyanto, mencapai 1,2 juta ton per tahun. Sedangkan kebutuhan garam makan, mencapai satu juta ton per tahun.
Sementara kebutuhan garam farmasi untuk infus dan berbagai macam obat-obatan, sebanyak 6 ribu ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan itu, didatangkan garam impor sebesar 90%.
BPPT sebelumnya telah bekerja sama dengan PT Kimia Farma memproduksi garam farmasi sebanyak 2.000 ton per tahun. Produksi garam ini diharapkan dapat ditambah 4.000 ton per tahun, sehingga dengan demikian ketergantungan 95 persen impor akan tergantikan.
"Paling tidak satu atau dua tahun ke depan kebutuhan garam industri yang sampai 1,2 juta ton itu bisa terpenuhi kalau pabrik yang dikembangkan mulai berproduksi," ujar Unggul
Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan garam makan, ia mengatakan BPPT telah melakukan kerja sama dengan Pemerintah Daerah Jeneponto untuk membantu meningkatkan produksi pengolahan garam rakyat dengan teknologi.
Menurut Unggul, sejak 1992, BPPT telah melakukan penelitian garam farmasi. Namun tidak dikembangkan lebih lanjut, karena tak ada yang tertarik. Kali ini, prototipe teknologi produksi garam farmasi dibuat lebih besar, dan disertifikasi. "Baru ditawarkan lagi sekarang, dan akhirnya ada yang tertarik," pungkasnya.
- See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2317820/indonesia-kaya-laut-tapi-impor-garamnya-90#sthash.fglAm1MQ.dpuf
Indonesia memiliki lautan nan luas, tapi aneh kalau garam saja harus impor dalam jumlah banyak.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bertekad untuk membantu pengembangan pabrik garam industri dan farmasi di tanah air. "BPPT melakukan kontrak kerja sama untuk pelayanan teknologi kepada PT Garam untuk perencanaan dua pabrik garam industri di Sampang, Madura," kata Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT, Imam Paryanto di Jakarta, Selasa (16/8/2016).
Kata Imam, PT Garam (Persero) berencana membangun dua pabrik garam industri khusus untuk pangan olahan. Rencananya, pabrik tersebut berkapasitas 2 ton per jam, dan 10 ton per jam.
Sebelumnya, Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan, kebutuhan garam di Indonesia, mulai dari garam farmasi, industri, hingga makan, cukup besar. Untuk memenuhi kebutuhan garam, Indonesia harus impor dari Cina, India, dan negara-negara lain.
Kebutuhan garam industri di Indonesia, kata Priyanto, mencapai 1,2 juta ton per tahun. Sedangkan kebutuhan garam makan, mencapai satu juta ton per tahun.
Sementara kebutuhan garam farmasi untuk infus dan berbagai macam obat-obatan, sebanyak 6 ribu ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan itu, didatangkan garam impor sebesar 90%.
BPPT sebelumnya telah bekerja sama dengan PT Kimia Farma memproduksi garam farmasi sebanyak 2.000 ton per tahun. Produksi garam ini diharapkan dapat ditambah 4.000 ton per tahun, sehingga dengan demikian ketergantungan 95 persen impor akan tergantikan.
"Paling tidak satu atau dua tahun ke depan kebutuhan garam industri yang sampai 1,2 juta ton itu bisa terpenuhi kalau pabrik yang dikembangkan mulai berproduksi," ujar Unggul
Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan garam makan, ia mengatakan BPPT telah melakukan kerja sama dengan Pemerintah Daerah Jeneponto untuk membantu meningkatkan produksi pengolahan garam rakyat dengan teknologi.
Menurut Unggul, sejak 1992, BPPT telah melakukan penelitian garam farmasi. Namun tidak dikembangkan lebih lanjut, karena tak ada yang tertarik. Kali ini, prototipe teknologi produksi garam farmasi dibuat lebih besar, dan disertifikasi. "Baru ditawarkan lagi sekarang, dan akhirnya ada yang tertarik," pungkasnya.
- See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2317820/indonesia-kaya-laut-tapi-impor-garamnya-90#sthash.fglAm1MQ.dpuf

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply