Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Makin Banyak Penyu Melahap Sampah Plastik di Laut

Pemuda Maritim - Para ilmuwan mengatakan, lebih dari 50 persen penyu menelan sampah laut, yang dalam jumlah besar mengambang di sekitar lautan dunia. Di Pulau North Stradbroke, Tanjung Moreton, Queensland, populasi penyu telah dipengaruhi oleh sampah yang mengambang di air dan terdampar di tepi pantai.

Kemunculan plastik yang meningkat dan berakhir di pantai yang bahkan paling terpencil di dunia karena arus laut, telah berdampak pada hewan yang menghuni lautan dan menelan sampah ini. Qamar Schuyler, seorang ilmuwan CSIRO yang memelajari dampak dari sampah ini pada populasi hewan laut lokal, mengatakan, sekitar empat-12 juta ton sampah memasuki lautan dunia setiap tahun.

"Jika anda melihatnya lebih spesifik, katakanlah, di setiap meter garis pantai, ada sekitar 20 sampah kantong plastik yang masuk laut dari setiap meter garis pantai, jadi ini masalah besar," ujar Qamar Schuyler.

Ia mengatakan, ilmuwan telah melakukan pemodelan dengan menggunakan data arus laut untuk melihat dari mana sampah-sampah itu berasal dari dan telah menemukan Asia Tenggara merupakan eksportir utama sampah laut, khususnya China.

"Tapi kami juga tak bisa membiarkan hal itu membuat kami puas," ujar Qamar.

Ia mengatakan, mereka telah menemukan di banyak daerah di Australia, mayoritas sampah yang dihasilkan akhirnya kembali ke pantai Australia. "Jadi kami juga perlu memerhatikan negara kami dan memastikan tindakan kami bersih pula," sambungnya.

Qamar menyebut salah satu cara untuk mengukur dampak dari sampah laut, serta mengukur keberhasilan mereka dalam menanganinya adalah dengan menggunakan hewan sebagai indikator biologis dan melihat mereka yang terpengaruh.

"Dan kami menggabungkan perkiraan sampah di seluruh dunia dengan lokasi populasi penyu berada dan kami menciptakan peta risiko, untuk melihat di mana di dunia ini kura-kura berada pada risiko tertinggi menelan plastik. Kami menemukan pantai Queensland adalah salah satu tempat terbaik bagi penyu untuk menelan sampah laut," jelasnya.

Qamar mengatakan, mereka mengambil data yang mereka kumpulkan secara global dan mengombinasikannya dengan perkiraan populasi global untuk mencoba dan menghitung berapa banyak penyu di seluruh dunia yang telah menelan sampah plastic itu.

"Dan itu adalah hal yang sulit karena para ilmuwan berurusan dengan banyak ketidakpastian, tetapi jika Anda memaksa saya dan berkata, 'Ya, saya perlu jumlah', kami memperkirakan bahwa lebih dari 50% penyu di seluruh dunia telah menelan sampah plastik,” ujarnya.

"Itu jumlah yang besar, tentu saja saya seorang ilmuwan, jadi saya harus memberikan peringatan yang kami belum tahu seberapa besar jumlahnya. Jadi kami tahu 50 persen dari penyu melahap sampah plastik, tapi itu tak berarti bahwa setiap penyu itu akan mati karena makan sampah itu,” ujarnya.

Untuk mengatasinya, tim ilmuwan telah mencoba meneliti berapa banyak potongan plastik yang dibutuhkan untuk membunuh penyu.

"Jadi kami telah menemukan penyu di luar sana yang telah terbunuh karena penangkapan ikan dan memiliki lebih dari 100 potong sampah di dalamnya -mereka tak terbunuh oleh sampah itu, mereka terbunuh oleh upaya eksploitasi tersebut," kata Qamar.

"Tapi kemudian kami menemukan penyu lain yang telah melahap satu potong sampah plastik yang cukup untuk membunuh mereka," sambungnya.

Mereka masih bekerja pada data, lanjut sang ilmuwan, tapi dalam hal perkiraan awal "kemungkinan 50% dari penyu yang melahap kurang dari 20 potong sampah plastik akan mati karena proses pencernaan".
Hal kecil yang bisa dilakukan untuk membuat perbedaan besar

Qamar mengatakan, sementara perlu ada tindakan lebih dari politisi global, bekerja sama, masyarakat setempat juga bisa berbuat lebih banyak untuk mencoba dan menciptakan perubahan.

"Banyak dari hal ini adalah kebijakan pemerintah daerah yang bisa membuat perbedaan. Dan masyarakat memengaruhi pemerintah daerah, sehingga ini bukan masalah yang tak terselesaikan, ini adalah sesuatu yang bisa kita atas setahap demi setahap," ujarnya.

Ia mengatakan, itu termasuk memastikan dewan lokal memiliki manajemen pembuangan air limbah yang memadai, bahwa mereka memiliki saluran air, [dan] saluran banjir dilengkapi dengan cara untuk mengurangi jumlah plastik yang mengalir ke mereka.
Sumber : internasional.republika.co.id

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply