Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » » » » » Petani Rumput Laut Indonesia Gugat Perusahaan Minyak Australia

Pemuda Maritim - Belasan ribu petani rumput laut Indonesia menggugat perusahaan minyak Australia yang dianggap bertanggung jawab atas kasus pencemaran minyak di Laut Timor.

Melalui gugatan kelompok (class action), Selasa (02/08), mereka mengajukan gugatan itu di Pengadilan Federal Australia di Sydney.

Pihak yang digugat, yaitu perusahaan minyak Montara, dianggap bertanggung jawab atas kasus pencemaran minyak di Laut Timor pada 2009 lalu.

Sekitar 300.000 liter minyak per hari dimuntahkan ke dalam lautan selama lebih dari 10 pekan setelah sebuah ledakan di pengeboran minyak, 250 kilometer bagian tenggara Pulau Rote NTT.

Petani rumput laut dan pemimpin kelompok penggugat Daniel Aristabulus Sanda pergi ke Sydney untuk kasus tersebut.

Dia berkata ke BBC Indonesia bahwa setelah tumpahan minyak menghancurkan panennya, dia berusaha menanam bibit baru, namun semuanya mati.

"Saya merasa putus asa; Saya sedih dan kecewa rumput laut saya tidak tumbuh dan saya tidak dapat menafkahi keluarga saya. Saya tidak dapat menyekolahi anak-anak saya.”

"Di pertengahan September 2009, semua petani rumput laut di Oenggaut (sebuah desa di Rote) gagal panen setelah permukaan air berubah; air berubah dari warna biru normal menjadi semua warna pelangi," dia berkata dalam sebuah surat pernyataan.

"Rumput laut yang saya pelihara semuanya hancur; rusak dan hanyut. Saya melihat ikan mati, dalan jumlah tak terhingga, terkadang lebih dari 100 di satu tempat.”
Nelayan juga terimbas

Dampak pencemaran itu, tak hanya di Rote, tetapi juga sampai ke nelayan yang berada di Desa Oesapa Kupang, NTT, Seorang nelayan Mustafa mengatakan dia terpaksa berganti pekerjaan setelah bencana ini karena penurunan pendapatan yang mencapai lebih dari 70%.
Image copyright AFP
Image caption Dua orang nelayan di perairan Nusa Tenggara Timur, NTT.

"Kita mencari pertanggung jawaban, karena di sini sudah cukup menderita, kasihan nelayan di sini sudah berapa tahun ini kalau mau dipikir sudah tidak ada hasil, nelayan harus diberikan kompensasi itulah, kalau data-data yang ada di nelayan itu kan ada semua ya, kalau data-data ekosistem itu kan sudah ada di pengacara, nanti mereka yang tahu," jelas Mustafa.
Hari ini adalah sebuah kemenangan

Gugatan kelompok ini adalah sebuah kemenangan bagi presiden Yayasan Peduli Timor Barat (West Timor Care Foundation) Ferdi Tanoni, yang telah bertahun-tahun melobi pemerintah Australia dan perusahaan untuk membiayai sebuah penilaian lingkungan atas dampak tumpahan minyak.

“Saya sangat lelah; ini sebuah perjuangan panjang. Namun kasus ini adalah sebuah kemenangan, sebuah kemenangan untuk rakyat Indonesia, sebuah kemenangan untuk petani rumput laut saat kasus ini sudah masuk ke pengadilan dan ini memberi saya kekuatan baru. Komitmen saya untuk melihat keadilan telah menumbuhkan kekuatan,” katanya.
Perusahaan membantah bersalah

Perusahaan yang mengoperasikan pengeboran – PTTEP Australian – mengklaim bahwa penelitian mereka menunjukkan tidak ada minyak yang mencapai laut Indonesia dan tidak ada dampak jangka panjang.

Namun pengacara Ben Slade berkata, mereka memiliki ‘alat bukti luar biasa’ dan sebuah kasus yang sangat kuat.

Gugatan kelompok ini dibiayai oleh Harbour Litigation Funding Limited, salah satu penyandang dana litigasi terbesar di dunia, sebagai imbalan mereka akan mendapat sebagian dari hasil jika kasus ini berhasil dimenangkan.

Pengacara Ben Slade mengatakan meski demikian kasus ini dapat bertahun-tahun di persidangan sebelum tercapai sebuah putusan.

“Ketika dihadapkan dengan sebuah perusahaan berkuasa yang bahkan tidak percaya mereka punya tanggung jawab kepedulian dan para petani rumput laut sendiri tidak mampu melawan mereka. Kerja keras untuk bisa ada dimana kami berada sekarang.”
Uang akan disalurkan ke para petani

Sebelumnya, pada 2010 lalu, Pemerintah Indonesia memperkirakan angka kerugian akibat pencemaran minyak di perairan Celah Timor dari ledakan sumur Montara Australia Barat mencapai Rp 500 miliar.

Ferdi Tanoni memiliki sebuah rencana untuk memastikan setiap uang yang diperoleh lewat kasus ini akan ditransfer langsung ke para petani.

“Jumlah orang yang mengklaim disini jelas. Saya telah bertemu dengan bank setempat sehingga orang-orang yang mengklaim di kasus ini memiliki rekening bank and ketika kami menang, jumlah yang diterima sesuai keputusan pengadilan akan ditransfer langsung ke orang-orang tersebut – sehingga tidak akan melalui pemerintah atau melalui saya atau orang lain.”
Sumber : www.bbc.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply