Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Reklamasi Buat Nelayan Tradisional Batam 'Menjerit'

 Pemuda Maritim - Aktivitas reklamasi di beberapa kawasan di Batam, telah membuat ruang gerak nelayan kian terbatasi.

Hal ini tentunya ikut berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan yang ikut berkurang.

Ekosistem laut yang sejatinya menjadi tempat bergantung bagi para nelayan, kini tidak lagi bersahabat dengan adanya reklamasi.

Kualitas laut tempat hidup beragam spesies ikan dan jenis hewan laut lainnya kian terusik oleh timbunan tanah.

Reklamasi secara nyata telah membuat tempat hidup biota laut terganggung. Padahal keberadaannya begitu penting bagi nelayan. Kondisi ini membuat nelayan harus berjuang ekstra keras demi tetap tercukupinya kebutuhan sehari-hari.

Sejatinya reklamasi adalah sebuah proses untuk memberdayakan kawasan yang sebelumnya tidak berguna untuk kemudian dijadikan kawasan yang produktif.

Apa yang terlihat di kawasan Batam Centre Batam, nampaknya sedikit banyak menyalahi arti dari reklamasi itu sendiri.

Di kawasan Batam Centre nampak jelas bahwa penimbunan tanah sudah jauh meninggalkan garis pantai, yang artinya penimbunan tanah dilakukan di daerah yang sebenarnya produktif bagi mereka yang berprofesi sebagai nelayan.

Terlepas dari bagaimana kondisi perairan yang berada di kawasan tersebut, proses reklamasi di kawasan ini telah memgambil daerah yang pada dasarnya berguna, walaupun dengan alasan untuk menambah daya guna sebuah kawasan menjadi lebih bernilai.

Pantauan Tribun Batam di lokasi Selasa (23/8/2016) siang, laut yang berada di kawasan ini nampak telah terbagi menjadi dua bagian, perahu nelayan yang nampak terikat di kawasan laut ini sepertinya tidak lagi mendapat tempat untuk beroperasi.

Padahal, angin segar sebelumnya nampak sempat berpihak terhadap nelayan, dimana pemerintah sempat melakukan upaya penghentian reklamasi.

Tim dari Pemerintah Kota Batam yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Agussahiman, sebagai ketua Tim 9 mendatangi beberapa titik proyek reklamasi.

Tim 9 yang terdiri dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Batam, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Batam, Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam, Dinas Pertanahan, Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam dan Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kota Batam, melakukan penghentian sementara terhadap aktivitas reklamasi sesuai dengan arahan pimpinan daerah.

Kondisi terkini kembali membawa para nelayan kepada masa-masa menghkawatirkan, bukan hanya akan kesulitan memperoleh hasil laut, nelayan juga harus siap dengan ancaman tidak bisa melaut karena keadaan laut yang sudah tidak memungkinkan.
Sumber : tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply