Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » » Aplikasi Android Berbasis FFD/M Ciptakan Sustainable Marine Resourse

Foto Bersama Nelayan Tambak Lorok
Semarang (26/9), Melihat dari potensi besar maritim Indonesia dengan garis pantai terpanjang ke 4 di dunia mencapai 95.181 km, memiliki perairan laut mencapai 5,8 juta km2, dan memiliki ekosistem-ekosistem spesifik seperti ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan mangrove yang kaya akan sumberdaya ikan dan fauna tropis bernilai ekologis dan ekonomis tinggi. Namun sungguh sangat ironis, melimpahnya potensi sumberdaya pesisir dan kelautan yang kita miliki ternyata belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan, bahkan kantong-kantong kemiskinan masyarakat Indonesia saat ini berada di wilayah pesisir dan permukiman nelayan.

Dari situlah munculnya beberapa penggagas muda dibidang maritim yang turut andil untuk memajukan SDM Nelayan di Indonesia yang cenderung masih belum melek teknologi , ini membuat dua orang siswa SMA Negeri 1 Banjarnegara yaitu Fitria Dwi Ratnasari dan Yustira Fima N, menemukan sebuah gagasan dalam bentuk aplikasi android untuk para nelayan agar dapat mengetahui hari dan bulan bebas penangkapan untuk pengembangan ekosistem ikan hingga layak tangkap serta letak/posisi ikan tersebut.

F-Go v1.0 Smansabara adalah nama aplikasi android tersebut dengan berbasis FFD/M. Tujuan utama pembuatan yakni menyukseskan program FFD/M. Nama F-Go merupakan singkatan dari FFD/M Go Preserving. Aplikasi tersebut merupakan aplikasi pertama yang mereka buat, dari SMA Negeri 1 Banjarnegara (Smansabara) dengan biaya nol rupiah.

Fitria menyampaikan, ”"Program Fishing Free Day dan Fishing Free Month (FFD/M) sendiri merupakan hasil penelitian mereka. Tujuan program tersebut adalah memberikan waktu khusus bagi biota laut agar dapat bereproduksi, tumbuh, dan berkembang dengan optimal tanpa gangguan kegiatan penangkapan ikan”.

”Program FFD/M terinspirasi dari kearifan lokal masyarakat pesisir yang memiliki hari libur tertentu dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan. Diharapkan nantinya kearifan lokal tersebut dapat dijadikan budaya nasional berupa FFD/M, sehingga hal tersebut tetap akan menyejahterakan nelayan khususnya nelayan tradisional walaupun mereka tidak pergi melaut”, jelas Fitria

Tambah Yustira , ”Melalui F-Go dapat diakses jadwal FFD/M  juga detail program FFD/M diantaranya meliputi daerah implemensi FFD/M dan database FFD/M. Selain itu, melalui F-Go nelayan juga dapat mengetahui daerah-daerah persebaran ikan dengan adanya Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan, Peta Lokasi Penangkapan (Pelikan) untuk Ikan Tuna, Cakalang, Lemuru, dan Pelikan offline. Juga dapat diakses data-data oceanografi lainnya.
”Aplikasi F-Go dapat digunakan baik secara online maupun offline. Hal tersebut bertujuan untuk mempermudah penggunaan di daerah-daerah yang belum terjangkau area internet”, terang Yustira

Lanjut Fitria, ”F-Go tidak hanya bermanfaat bagi nelayan dan masyarakat pesisir namun, juga masyarakat seluruh indonesia. Karena melaui F-Go masyarakat dapat mengetahui informasi-informasi terkait program FFD/M, kearifan lokal, dan sumber daya kelautan dan perikanan sehingga aplikasi ini sangat direkomendasikan untuk diterapkan di Indonesia”.


Pengenalan F-Go v1.0 SMANSABARA kepada Nelayan
Bekerjasama dengan APMI (Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia), F-Go v1.0 Smansabara disosialisasikan kepada nelayan Tambak Lorok, Semarang Utara. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan data-data lapangan, terutama meninjau apakah aplikasi tersebut dapat diterima atau tidaknya oleh nelayan sebagai pelaku utama sektor penangkapan perikanan. (26/09)

Guru Pendamping dari SMA 1 Banjarnegara, Wiyono, menyampaiakan, ”Masyarakat sangat antusias mengikuti sosialisasi ini, walau masyarakat nelayan pada umunya banyak yang belum paham mengenai HP terutama android. Namun, mereka tetap tertarik saat diberi pengarahan. Bahkan, meminta untuk diajari lebih lanjut. Dengan adanya fitur F-Go mereka berharap dapat mengetahui strategi pengkapan agar hasil yang didapat meningkat.

Gufron selaku ketua RT sekaligus nelayan Tambak Lorok, mewakili teman-temanya yang juga merupakan nelayan tradisional mengapresiasi kegiatan ini. Terlebih-lebih nantinya Tambak Lorok akan menjadi kampung Bahari, tentunya SDM nelayan harus ditingkatkan sebanding dengan pembangunan daerah.

”Sosialisasi ini sangat bermanfaat untuk kami nelayan yang tidak paham sama sekali tentang teknologi seperti itu dan harapan kami aplikasi ini dapat segera terealisasi dan dapat digunakan nelayan disini sehingga yang para nelayan yang sekarang alih profesi menjadi buruh dapat semangat bernelayan lagi”, ujar Gufron

Katua APMI Provinsi Jawa Tengah, Hendra Wiguna, menyampaikan, ”Peran serta akademisi dalam mendorong perwujudan Indonesia Poros Maritim Dunia, salah satunya adalah dengan peduli kepada nelayan. Hadirnya karya cipta F-Go v1.0 Smansabara membuktikan semangat kemaritiman pemuda Indonesia telah kembali hadir”.

Baik Fitria maupun Yustira, yang merupakan siswa SMA 1 Banjarnegara, keduanya berharap, dengan adanya sosialisasi sekaligus penelitian ini dapat mewujudkan impian para nelayan di Desa Tambak Lorok khususnya, dan para nelayan di Indonesia agar mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal tanpa mengesampingkan kelestarian biota laut khususnya ikan.

”Sebuah impian yang luar biasa jika pemerintah dapat memfasilitasi untuk merealisasikan dan diterapkan kepada nelayan di seluruh Indonesia sekaligus menjadi budaya nasional kebanggaan Indonesia,” Tambah Yusti.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply