Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Ikan-ikan yang Menjauh dari Nelayan Teluk Balikpapan

Pemuda Maritim - Matahari baru saja naik, angin berhembus kencang, gelombang air laut mulai pasang. Waktu menunjukkan pukul 10.00 Wita, para nelayan yang bermukim di pedalaman Penajam Paser Utara, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, bersiap keliling Teluk Balikpapan menjaring ikan.

Tampak Dahri, warga Gersik PPU yang sehari-hari melaut untuk menghidupi ekonomi keluarga. Laki-laki 54 tahun itu sudah menjadi nelayan di area Teluk Balikpapan sejak belia. Menggunakan kapal ketinting ukuran enam meter, belum lama ini, ia menyusuri perairan untuk mengumpulkan bermacam jenis ikan.

“Sejak masih SD saya ikut bapak melaut, kami keluarga nelayan tradisional. Mata pencaharian kami di Gersik rata-rata nelayan. Sekali melaut, saya pasti dapat ikan baronang, kakap merah, belana, kipar dan lain-lain.”

Perlahan, Dahri mengisahkan kondisi Teluk Balikpapan yang kini berubah. Kerusakan lingkungan dari perkembangan kawasan industri di teluk membuat jumlah ikan berkurang. Ekosistem laut yang sejatinya tempat bergantung para nelayan, kini sudah tidak bersahabat.

Pelebaran kawasan industri telah merenggut surga para nelayan di lautan. “Saya ingat, hingga tahun 2005, saya mendapatkan ikan sedikitnya 30 kilogram. Kini, hanya 3 – 7 kilogram.”

Dahri harus bersusah payah, berpindah tempat menebar jala. Ia bahkan, mendirikan pukat cincin dengan sebuah pondok bambu beratap atau belat, yang umum dibuat nelayan Gersik. Belat adalah semacam pondok di laut yang dibawahnya ada pukat cincin. Kalau jaring diangkat dan banyak ikan terjebak, langsung dibawa pulang untuk dijual.

“Sekarang, usaha belat tidak menghasilkan. Kadang ikan yang terjaring kecil dan sering dicuri pula. Biasanya, ada saja ikan mati ikut terjaring, karena keracunan atau terkena limbah dari kawasan industri di Kariangau dan batubara di PPU,” paparnya.

Achmad Rizal, nelayan tetangga Dahri turut menceritakan susahnya kehidupan nelayan. Menurutnya, sejak tumbuhnya perusahaan batubara di kawasan Teluk Balikpapan, biota laut terganggu.

Meski memiliki tiga belat di laut, pendapatannya tidak memadai. Kadang, dalam seminggu ada dua hari ikan tidak didapat sama sekali. “Beruntung, ada udang galah atau kepiting yang terjerat, ini bisa dijual, menutupi kebutuhan harian.”

Saban hari, Rizal hanya membawa pulang uang sebesar Rp 50 ribu. Dulu, medio 2006, ia bersama ayahnya bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp 500 ribu. Pendapatan bersih setelah dipotong biaya rokok dan bensin. Waktu melaut pun relatif singkat, dua hingga tiga jam saja.

Kini, jika hasil tangkapan tidak memuaskan, Rizal memilih membawa pulang ketimbang menjualnya. Sebab, pembeli akan menaksir harga murah dan tidak memberi keuntungan sama sekali. “Inilah kehidupan nelayan sekarang, pasang surut, pendapatan tak menentu. Maraknya pertumbuhan kawasan industri mengubah kehidupan kami. Meski sulit, kami harus bertahan,” jelasnya.

Teluk Balikpapan memiliki luas daerah aliran sungai sekitar 211.456 hektare dan perairan seluas 16.000 hektare. Sebanyak 54 sub-DAS menginduk di wilayah teluk ini, termasuk salah satunya DAS Sei Wain, hutan lindung atau yang dikenal Hutan Lindung Sungai Wain. Ada 31 pulau kecil menghiasasi teluk.

Pengembangan Kawasan Industri Kariangau seluas 5.130 hektare di kawasan teluk yang secara administratif berada di Kelurahan Kariangau, Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, telah mengancam ekosistem teluk tersebut yang berimbas pada kehidupan nelayan sekitar.

Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Kota Balikpapan, hingga saat ini terdapat 21 perusahaan baru yang telah memiliki izin prinsip melakukan kegiatannya di kawasan Teluk Balikpapan. Sebelumnya, tercatat ada 25 perusahaan yang menjalankan kegiatannya sejak 2011.

Kepala BLH Balikpapan, Suryanto mengatakan, persoalan Teluk Balikpapan bukan semata tanggung jawab Kota Balikpapan. Sebab Penajam Paser Utara juga memiliki kepentingan industri, sehingga kewenangannya dipegang Provinsi Kalimantan Timur.
Sumber : www.klikbalikpapan.co

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply