Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Mitos Nyi Roro Kidul Pengaruhi Pola Nelayan Melaut

Pemuda MaritimPengelolaan potensi pantai Selatan Yogyakarta sampai saat ini belum maksimal, karena rendahnya sumber daya nelayan yang ada. Dari potensi ikan yang mencapai 95 ribu hingga 100 ribu ton per tahun, baru 6 ribu ton yang dimanfaatkan.

Kepala Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta Sigit Sapto Rahardjo mengungkapkan, Pemda DIY melalui imbauan gubernur mengenai 'among tani dagang layar' berharap masyarakat Yogyakarta mau memanfaatkan potensi laut yang masih terbuka lebar. Dengan potensi 95 ribu ton per tahun dan baru dimanfaatkan 6 ribu ton, seharusnya mampu menyejahterakan para nelayan.

"Mengubah pola masyarakat membutuhkan waktu yang tidak singkat apalagi program among tani dagang layar belum lama diluncurkan," kata Sigit saat dihubungi Okezone, Kamis (1/9/2016).

Selain itu, alat tangkap para nelayan pun masih jauh dibandingkan nelayan lain. Sekira 3.000 nelayan DIY masih mengandalkan kapal kecil di bawah 30 grosston. Bahkan, mereka menggunakan perahu tempel (jukung) yang hanya bisa mengangkut tidak lebih dari 100 kilogram ikan tangkap dalam semalam. Masa tangkap nelayan pun dinilai masih rendah karena hanya sehari.

Padahal menurut dia, potensi laut selatan dengan 500 jenis ikannya jika dimaksimalkan akan membawa dampak perekonomian bagi masyarakat. Diakuinya, mitos pantai selatan yang ditunggui ratu pantai selatan Nyi Roro Kidul sedikit memengaruhi pola nelayan untuk melaut.

"Memang ada mitos ratu pantai selatan, tetapi kita juga punya mitos mengenai penunggu Gunung Merapi. Di Gunung Merapi memberikan batu dan pasir serta keindahan alam yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Apalagi ratu pantai selatan akan lebih banyak lagi," ucapnya

Sementara Koordinator SAR Satlinmas Korwil II Gunungkidul Marjono mengakui, nelayan pantai selatan setiap Jumat Kliwon memang berhenti melaut. Selain kepercayaan masyarakat, hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan laut.

"Memang ada kearifan lokal bagi nelayan untuk berhenti melaut setiap hari Jumat Kliwon," katanya.
Sumber : news.okezone.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply