Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Nelayan Gunungkidul Kesulitan Cari Pemium

Pemuda Maritim - Nelayan di pesisir selatan Gunungkidul mengeluhkan tidak bisa memperoleh bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Hal ini disebabkan, pelarangan pembelian BBM premium dengan cara eceran atau menggunakan jerigen.

Salah seorang nelayan Pantai Baron, Sugiyanto (51) mengatakan, pertalite kurang cocok digunakan untuk menggerakkan mesin perahu. Selain harganya yang lebih mahal dari premium, juga bahan bakar jenis ini membuat mesin kapal cepat panas.

"Terpaksa menggunakan pertalite yang lebih mahal. Namun sayangnya, bahan bakar jenis ini lebih panas dipakai, jadi berpotensi merusak mesin kapal," ujar Sugiyanto.

Sugiyanto menuturkan, harga BBM pertalite sampai pada nelayan harganya sudah mencapai Rp 9.000 per liter. Sementara hasil tangkapan masih sangat sedikit, tidak sebanding dengan pengeluaran untuk pembelian bahan bakar.

Nelayan lainnya di Pantai Drini, Warjono (45) mengatakan, harga BBM jenis pertalite dari pengecer seringkali melambung. sementara jarak menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) terdekat kurang lebih dari 25 kilometer.

“Waktunya habis di perjalanan, dan ongkos untuk membeli bahan bakar, jadi terpaksa beli di pengecer yang pasti lebih mahal,” katanya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul, Rujimanto mengeluhkan pembatasan pembelian BBM jenis premium menggunakan jerigen. Pasalnya pelarangan ini justru sangat memberatkan nelayan.

Pihaknya berharap kepada pemerintah agar kebijakan pemerintah dalam membatasi pembelian premium dengan menggunakan jerigen, agar dapat dikaji ulang.

“Kalau begini caranya, kami akan surati Hiswanamigas, agar aturan tersebut direvisi, karena sangat menyulitkan bagi kami nelayan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, Agus Priyanto, mencoba membantu mencarikan solusi untuk kesulitan nelayan akan ketersediaan BBM.

Pihaknya mengarahkan nelayan untuk segera berkomunikasi dengan pihak Hiswana Migas agar dapat membatalkan kebijakan tersebut. “Jikalau dipersulit mendapatkan premium, segera dikomunikasikan kepada, sehingga masalah tersebut dapat segera ditindaklanjuti,” tuturnya.
Sumber : www.pikiran-rakyat.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply