Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Nelayan Tradisional Berhenti Melaut

Pemuda Maritim - Angin kencang disertai gelombang laut tinggi melanda perairan Sumatera Barat.

Hal ini mengakibatkan nelayan tradisional di sejumlah tempat di Sumatera Barat berhenti melaut.

Akibatnya, pasokan ikan berkurang dan harganya mulai naik.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat Yosmeri memperkirakan, sekitar 50 persen dari sekitar 34.000 nelayan di seluruh kawasan pesisir Sumbar tidak melaut karena cuaca buruk.

Dari 1.726 unit kapal nelayan yang terdata, diperkirakan sekitar 25 persen tidak melaut. Nelayan yang melaut umumnya yang menggunakan kapal berukuran di atas 10 gros ton.

Pantauan Kompas di beberapa tempat seperti Pantai Purus dan Pantai Muaro Lasak Padang, Kota Padang, Rabu (28/9), perahu-perahu nelayan tradisional ditambatkan di pinggir pantai.

Angin kencang sesekali bertiup disertai empasan ombak yang tinggi. Sejumlah nelayan menghabiskan waktu dengan mengobrol, ada juga yang memperbaiki jala atau membuat kemudi kapal yang baru.

 Aswandi (52), nelayan tradisional di kawasan Pantai Purus, Padang Barat, Kota Padang, mengatakan, dirinya dan kawankawannya berhenti melaut sejak Minggu (25/9).

"Dalam kondisi angin kencang dan gelombang tinggi hingga beberapa meter, kami tidak mungkin berangkat (melaut) karena bisa tenggelam. Apalagi kapal kami kecil," kata Aswandi, Rabu (28/9).

Nelayan di Pantai Purus lainnya, Amrizon (50), mengatakan, kini dirinya dan kawan-kawannya tidak mempunyai penghasilan.

"Memang ada beberapa nelayan yang masih punya simpanan uang sehingga bisa bertahan, tetapi tidak sedikit juga yang terpaksa utang dulu untuk belanja kebutuhan sehari-hari," kata Amrizon.

Karena nelayan berhenti melaut, pasokan ikan seperti ikan karang dan marlin mulai berkurang. Armendra (46), pedagang ikan di kawasan Purus, mengatakan, dirinya hanya mendapatkan pasokan ikan 300 kilogram per hari.

Dalam kondisi cuaca normal, dirinya bisa mendapatkan 500 kilogram hingga 1 ton ikan karang dan marlin. Karena pasokan kurang, harga ikan naik dari Rp 20.000- Rp 60.000 per kilogram menjadi Rp 25.000-Rp 65.000 per kilogram.

"Ikan mulai susah diperoleh karena hampir semua nelayan tradisional yang memasok ikan karang dan marlin di kawasan pesisir Sumbar berhenti melaut. Jika ada pasokan, itu dari kapal-kapal besar yang berangkat sebelum cuaca buruk," katanya.

Angin kencang juga melanda wilayah daratan Sumbar sejak Selasa (27/9), antara lain di Kota Padang, Pariaman, Pesisir Selatan, dan Agam.

Di Agam, Selasa siang, angin kencang menumbangkan pohon kelapa dan menimpa seorang warga di Nagari Manggopoh, Lubuk Basung, hingga meninggal.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Bandara Internasional Minangkabau, angin kencang diperkirakan akan berlangsung dalam tiga hari ke depan di Kepulauan Mentawai dan pesisir pantai Sumbar.
Sumber : tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply