Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Serahterima Rumah Nelayan Molor

Pemuda Maritim - Sebanyak 50 unit rumah bantuan pemerintah pusat (sumber dana APBN) untuk nelayan Pidie Jaya (Pijay) yang sebelumnya dijadwalkan untuk diserahkan kepada penerima pada bulan Juli 2016, molor hingga dua bulan dan belum diketahui kapan akan diserahkan.

Pembangunan rumah type 36 yang berlokasi di Gampong Cot Lheue Reng Kecamatan Trienggadeng ini, sebenarnya sudah rampung sejak akhir tahun 2015 lalu. Kompleks perumahan nelayan itu pun sudah dilengkapi dengan jalan dan prasarana lainnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pijay, Ir Kamaluddin, sebelumnya mengatakan bahwa proses serahterima rumah ini akan dilakukan usai Idul Fitri bulan Juli 2016 lalu. Setelah selesainya proses verifikasi dan penyerahan dari Pemerintah Provinsi Aceg kepada Pemkab Pijay. “Rencananya, usai Hari Raya Idul Fitri rumah itu akan diserahkan kepada calon penerima,” kata Kamaluddin tiga bulan lalu. Tapi setelah dua bulan dari waktu yang direncanakan, rumah tersebut belum juga diberikan kepada nelayan yang berhak.

Sejumlah program pembangunan lainnya yang berkaitan dengan kesejahteraan nelayan di kabupaten ini juga tak berjalan sesuai harapan.

Seperti pembangunan pelabuhan pendaratan ikan (PPI) di Panteraja yang sudah empat tahun rampung, kini juga telantar. Padahal jika difungsikan, PPI tersebut sangat membantu aktivitas nelayan, karena turut dibangun gedung pengolahan ikan, pasar ikan, dan sejumlah kios, dengan dana puluhan miliar. Namun, hinga kini fasilitas itu tak bisa digunakan nelayan setempat.

Selain rumah nelayan yang belum diserahkan dan PPI yang telantar, delapan unit kios kepiting di pinggir jalan nasional kawasan Gampong Masjid, Kecamatan Panteraja yang dibangun Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk pemasaran hasil perikanan, juga tak berjalan sesuai yang diharapkan. Delapan unit kios itu kini tutup dan ditinggalkan pedagang.

Pedagang malah kembali berjualan di warung/jambo pinggir jalan, persis di depan kios dimaksud. Beberapa pedagang mengaku, mereka tidak berminat memanfaatkan kios yang dibangun pemerintah, karena lokasinya tidak strategis. Sehingga bukannya memudahkan mereka, malah menyulitkan pedagang memasarkan hasil perikanan tersebut. “Karena itu, kami kembali berjualan di pinggir jalan, agar kepiting yang kami jual mudah dilihat pembeli yang kebanyakan pelintas di jalan nasional,” ujar beberapa pedagang.

Menurut mereka, selain lokasi kios yang dibangun jauh dari pinggir jalan, halaman kios kepiting yang dibangun pemerintah ini juga tidak disemen. Jika diguyur hujan, lokasi ini berlumpur, sehingga calon pembeli malas untuk turun apalagi mampir ke kios tersebut. “Kami sudah pernah menyampaikan hal ini kepada Kadis DKP saat berkunjung ke sini beberapa bulan lalu, namun tidak juga diperbaiki,” kata pedagang.
Sumber : aceh.tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply