Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Larung Sesaji Baritan Asemdoyong, Pecahkan Rekor Muri Rangkaian Ikan Petek Terbanyak

Pemuda Maritim - Bertepatan tanggal 1 Muharram 1438 H bertepatan Minggu (2/10/2016) masyarakat nelayan Asemdoyong mengadakan baritan larung sesaji. Baritan atau selametan ataupun sedekah merupakan salah satu ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan atas karunia rejeki yang sudah diberikan kepada Tuhan serta harapan dan doa semoga memasuki tahun baru Hijriah maupun memasuki tahun baru Jawa diberi rejeki yang melimpah maupun keberkahan dalam kehidupan.

Masyarakat nelayan Asemdoyong yang bergabung dalam Koperasi Unit Desa (KUD) Miyoso Makmur yang beranggotakan 5.242 nelayan, didukung 600 kapal yang tersebar dari warga desa Danasari kecamatan Pemalang, Desa Asemdoyong, Kasunanan dan Kedungbanjar kecamatan Taman, serta desa Loning dan Nyamplung sari kecamatan Petarukan. Anggota KUD inilah yang merupakan pemprakarsa, swadana dan swadaya dalam melaksanakan tradisi Baritan di Asemdoyong.

Menurut legenda yang dituturkan turun temurun tentang tradisi Baritan diceritakan, masyarakat Pemalang jaman dahulu bercocok tanam, nelayan dan berdagang. Pada suatu masa masyarakat sepanjang pesisir terkena wabah penyakit. Wabah ini dipercaya sebagai kutukan karena tidak memberikan penghormatan berwujud sesaji kepada penguasa Pantai Utara yang bernama Dewi Lanjar sehingga mereka mengadakan ritual sedekah laut yang diberi nama baritan.

Nama baritan sendiri berasal dari kata mbubarake peri lan setan (mengusir hantu dan setan). Setelah diadakannya ritual baritan tersebut, wabah penyakit tersebut perlahan-lahan pergi. Dan masyarakat pun tenang kembali. Kini meski kehidupan masyarakat mulai tergerus arus modernitas, mereka masih tetap melestarikan tradisi baritan tersebut.

Dalam prosesi baritan kali ini, dimulai dengan kirab sesaji (sangen) keliling desa Asemdoyong dan akhirnya dibawa dengan perahu ketengah laut untuk dilarung sebagai simbol atas persembahan alam ke nelayan dan sebaliknya sebagai kearifan lokal nelayan akan mengambil ikan di laut secara baik dan benar dengan tidak merusak ekosistem alam yang ada.

Suka cita pun dinikmati oleh para nelayan Asemdoyong maupun para pengunjung bukan nelayan dari berbagai desa maupun kecamatan lain. Dalam rangkaian baritan ini juga digelar pasar rakyat dan hiburan sebagai hiburan yang di nanti nanti masyarakat.

Ada hal yang menarik si baritan Asemdoyong tahun ini. Adanya pemecahan rekor muri Kolase Kapal Nelayan dari Rangkaian Ikan Petek Terbanyak.

Kolase sendiri dapat diartikan sebagai komposisi artistik yang dibuat dari bermacam-macam bahan, seperti kertas, kain, kaca, logam, kayu, dan lainnya yang ditempelkan pada permukaan gambar. Kolase adalah karya seni rupa dua dimensi yang menggunakan bermacam-macam macam paduan bahan. Selama bahan itu dapat dipadukan dengan bahan dasar, akan menjadi karya seni kolase yang dapat mewakili perasaan estetis orang yang membuatnya.

Untuk memeriahkan baritan dan mengangkat baritan sebagai salah satu agenda wisata tahunan warga masyarakat Asemdoyong di dukung oleh salah satu produsen rokok terkenal, berusaha memecahkan rekor muri pembuatan Kolase berbahan ikan.

Kerja keras dan gotong royong masyarakat Asemdoyong, maka Minggu (2/10), Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pun turut memberikan apresiasi terhadap semangat pertemanan dan gotong royong masyarakat Asemdoyong dengan mencatatkan kolase ini sebagai sebuah rekor nasional nomor 7612 dengan nama Kolase Kapal Nelayan dari Rangkaian Ikan Petek Terbanyak. Dengan detil Kolase Kapal Nelayan dari Rangkaian Ikan Petek Terbanyak sebagai berikut :
Jumlah ikan petek: 13.500 ekor
Tinggi : 1 meter
Lebar : 2,75 meter
Tebal : 20 cm

Harapannya, dengan diraihnya rekor membanggakan ini, masyarakat Asemdoyong dapat semakin memperkenalkan ikan petek dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi daerah.

Seperti yang diungkapkan oleh Suroso, salah satu perwakilan nelayan Asemdoyong “Sejak puluhan tahun yang lalu, ikan petek telah menjadi tali kehidupan, cermin kemakmuran, serta simbol pemersatu masyarakat Asemdoyong. Setiap harinya, di musim apapun, nelayan Asemdoyong yang berasal dari berbagai suku dan latar belakang bisa mendapatkan sedikitnya satu ton ikan petek – memberikan kontribusi ekonomi yang begitu besar bagi masyarakat Asemdoyong. Sebagai bentuk kebanggaan dan rasa syukur kami terhadap tangkapan laut yang melimpah tersebut.”

Plakat rekor MURI diserahkan oleh Deputy Manager Muri Ari Yani Siregar kepada perwakilan panitia baritan Suroso dan Perwakilan Nelayan Asemdoyong Mahmud yang didampingi oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Muntohir, S.Pi, MM.

Dengan adanya apresiasi MURI diharapkan adanya pengembangan wisata di Kabupaten Pemalang, agar potensi wisata tahunan dapat dikemas dengan menarik, yang nantinya diharapkan adanya efek dominan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat.
Sumber : harianpemalang.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply