Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Nelayan Muara Baru Mau Berhenti Mogok

Pemuda Maritim - Perusahaan Umum (Perum) Perikanan Indonesia (Perindo) beserta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI telah menaikkan harga sewa lahan 450 persen di Kawasan Pelabuhan Nizam Zachman Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.

Hal itu membuat sejumlah nelayan, pengusaha, sentra perikanan, dan karyawan pabrik ikan langsung melakukan aksi tutup operasional yang dimulai pada Senin (10/10) lalu, dan masih berlangsung hingga hari ini, Rabu (12/10/2016).

Di sisi lain, aksi mogok kerja tersebut membuat para nelayan kini bingung, lantaran sampai hari ini tak mendapatkan pengasilan. Bahkan, para nelayan berharap dan bersitegas agar aksi stop operasional ini dihentikan.

"Kalau sehari saja enggak melaut saya sih jujur saja sudah tidak betah. Kalau tidak melaut, saya sudah pusing karena sama sekali enggak ada ya namanya itu penghasilan.

Sekarang, di kantung celana saya cuman tersisa Rp 20 ribu. Saya jadi bingung mau ngasih makan istri dan dua anak saya di rumah pakai apa?" kata seorang nelayan ikan, Ibnu (35) di Muara Baru.

Dijelaskan Ibnu, penghasilannya menjadi Anak Buah Kapal (ABK) per-harinya Rp 50-100 ribu saja. Padahal per-bulannya tersebut ia mengaku membutuhkan uang atau pendapatan lebih dari Rp 500-800 ribu

"Bagaimana caranya saya bisa dapat uang yang banyak? Ya dengan cara melaut. Itu sehari bisa dapat Rp 800 perharinya jika tangkapan sedang banyak. Rata-rata atau paling sering saya dapat cuman Rp 300 ribuan," katanya.

Ia melanjutkan, "Sekarang kan stop operasional, mana BBM-nya? Kami enggak ada BBM, sepi dan masih banyak sampai saat ini para nelayan mengikuti mogok kerja. Masalahnya, kami juga butuh makan. Kalau enggak melaut, bagaimana kondisi dapur rumah saya."

Ungkapan yang sama jugadiucapkan Wahyu (48), seorang nelayan ikan tradisional di Muara Baru. Ia mengaku lelah, dan berharap agar aksi stop operasional tersebut dihentikan.

"Kalau di stop, kami dari bos-bos pengusaha di sini enggak bisa melaut karena tidak diberikan ongkos bahan bakar. Makanya, saya dan teman - teman nelayan di sini, cari cara agar bisa lagi melaut," paparnya.
Sumber : tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply