Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Bencana Dialami Ratusan Nelayan Paciran, Semua Ikan Mati Saat Terperangkap Jaring, Penyebabnya

Pemuda Maritim - Ujian berat kini dialami 551 nelayan kecil atau nelayan rajungan Kecamatan Paciran, Lamongan.

Sejak 20 hari ini semua jenis ikan tangkapan mereka tidak bisa diselamatkan karena sudah  mati  ketika terperangkap jaring.

Di lokasi penangkapan, atau pada radius 4 hingga 5 mil dari daratan, semua jenis ikan tangkapan, yakni ikan karang seperti ikan menganti, lopster, kepiting, rajungan, rebon, dan kuningan sudah dalam keadaan mati dan membusuk.

"Gurita saja yang diketahui begitu kuatnya bertahan hidup, ikut mati semua,"ungkap Mukhlisin, Ketua Gerakan Nelayan Indonesia (Geni), kepada Surya.co.id, Selasa (8/11/2016).

'Bencana' yang dialami ratusan nelayan asal Paciran ini sebenarnya sudah berlangsung sejak dua puluh hari lalu.

Dan sejauh ini Pemkab Lamongan belum melakukan aksi penanganan  apapun untuk membantu masalah yang dihadapi nelayan, termasuk melakukan penyelidikan ke lokasi dugaan pencemaran.

"Air laut ini jelas tercemar,"ungkap Umar alias Ucok yang mendampingi Ketua Geni.

Baik Mukhlisin maupun Umar tidak bisa menuding pabrik mana yang diduga mencemari karena di wilayah pantura Lamongan banyak berdiri pabrik.

Matinya ikan, seperti rajungan, itu dalam dagingnya membusuk dan warnanya hitam, juga ada yang kuning.

Sementara di laut lepas radius 4 hingga 5 mil itu merupakan sumber penghasilan nelayan perahu kecil.



"Semua jenis ikan hasil tangkapan dibuang. Nelayan tidak berani menjual, takut,"ungkap Mukhlisin.

Bahkan kondisi ini sekarang semakin meluas, dari Paciran hingga Kecamatan Brondong, tepatnya hingga Cumpleng.

Kerugian nelayan akibat musibah ini sangat besar, sebab untuk sekali barangkat , nelayan kecil harus mengeluarkan biaya minimal Rp 100 ribu, belum termasuk biaya umpan.

Sementara hasil tangkapan tidak bisa dijual karena mati dan membusuk."Terkadang satu kali angkatan bisa mencapai 1 kwintal ikan rebon, tapi tidak bisa dijual,"kata Mukhlisin.

Saat ini upaya nelayan hanyalah dengan cara mencari lokasi lebih jauh, antara 15 hingga 20 mil. Dan itu sangat jarang, karena takut ombak besar.

Problem yang dihadapi para nelayan Paciran dan Brondong ini lima hari lalu sudah dilaporkan ke Dinas Perikanan dan Kelautan, termasuk membawa sample ke Kantor Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan."Belum ada hasil laboratoriumnya,"kata Wellem Mintarja, Penasehat Geni.

Sementara itu Kepala Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Muntalim dikonfirmasi Surya.co.id menyatakan dari hasil lab sementara diketahui ada zat besi dalam daging ikan.

"Jadi itu hasil sementara. Sekarang ini kami lab lagi,"kata Muntalim.
Sumber : tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply