Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Dilarang Masuk ke Malaysia, Penjualan Ikan Nelayan Sebatik Turun Drastis

Pemuda Maritim - Nelayan di wilayah perbatasan Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mengaku bahwa penjualan ikan segar ke negara Malaysia turun hingga 70 persen sejak ada larangan kapal ikan Indonesia masuk ke Pelabuhan Tawau, Malaysia.

Ketua Asosiasi Nelayan Sebatik Muhammad Jabbar mengatakan, dalam satu bulan, biasanya nelayan di Sebatik mampu mengirimkan 800 ton ikan segar berbagai jenis ke Tawau.

"Dua minggu terakhir turunnya 70 persen karena kita tidak bisa masuk ke Tawau," kata Jabbar, Selasa (1/11/2016).

Menurut dia, kesulitan menjual hasil ikan membuat sebagian nelayan memilih tidak melaut.

Nelayan di Sebatik berharap pemerintah pusat segera mencarikan solusi terkait larangan pemerintah Malaysia tersebut.

Selain mencarikan solusi jangka pendek, nelayan Sebatik juga berharap pemerintah Indonesia membangun cold storage yang mampu menampung hasil ikan agar bisa dijual ke Sulawesi dan Pulau Jawa.

"Jangka panjangnya menguntungkan kita karena Malaysia bergantung kepada hasil ikan nelayan kita. Tapi sekarang kita tidak punya cold storage," kata dia.

Pemerintah Malaysia secara resmi melayangkan surat larangan kapal ikan memasuki Pelabuhan Tawau kepada pemerintah Kabupaten Nunukan pada Senin (24/10/2016) pekan lalu.

Pemerintah Malaysia beralasan bahwa kapal ikan nelayan Indonesia harus memenuhi syarat keamananan internasional untuk masuk di Pelabuhan Tawau.

Kepala Dinas Perhubungan Komuniaksi dan Informatika Kabupaten Nunukan Petrus Kanisius mengatakan, permintaan Malaysia agar kapal ikan Indonesia memiliki keamanan berstandar internasional belum sebanding dengan hasil ikan yang dibawa dari Indonesia ke Tawau.

Menurut Petrus, permintaan peningkatan stanadar kapal ikan dengan standar internasional harus disertai dengan pengingkatan volume perdagangan antara Indonesai dan Malaysia.

"Ini volumenya kadang seminggu sekali, dua minggu sekali, jadi masih di bawah standar. Kebetulan jalur ini tidak jauh, tidak berbahaya, jadi kapal tradisional masih bisa lancar," kata Petrus.

Petrus menambahkan, pemerintah Malaysia meminta pejabat kedua negara sekelas ketua menteri dari Malaysia dan sekelas gubernur dari Indonesia untuk membicarakan tindak lanjut dari permintaan Pemkab Nunukan untuk membolehkan kapal ikan Indonesia masuk ke Pelabuhan Tawau.

Permintaan pemerintah Malaysia sudah dibahas dalam pembicaraan sosek malindo di Penang Malaysia dan Bali beberapa waktu lalu.

"Kita sudah sampaikan hal ini kepada Gubernur, sampai saat ini kita belum menerima tanggapannya," kata Petrus.
Sumber : kompas.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply