Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Ikan Mati Tercemar Limbah, Nelayan Lamongan Takut Menjualnya : Kalau Keracunan Bagaimana?

Pemuda Maritim - Ratusan nelayan Paciran, Kabupaten Lamongan tidak berani menjual ikan hasil tangkapan mereka yang diduga keracunan, meski ada jaminan dari Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan jika ikan itu tetap bisa dijual dan dikonsumsi.

Bahkan para nelayan tetap membuang semua ikan hasil tangkapannya, baik di tengah laut maupun di daratan.

”Kalau menjual ikan yang semuanya mati akibat tercemar limbah, jelas tidak berani. Kalau ada apa–apa atau mereka yang mengonsumsi keracunan bagaimana,” tegas Ketua Gerakan Nelayan Indonesia (Geni) kepada SURYA.co.id, Sabtu (12/11/2016).

Para nelayan saat ini terpaksa harus meninggalkan wilayah laut yang diduga sedang tercemar limbah pabrik.

Jika sebelumnya hanya radius 4 mil hingga 5 mil, kini lebih jauh lokasi penangkapannya, yakni pada radius 15 mil hingga 20 mil.

Jarak yang begitu jauh tentu menambah biaya akomodasi dan juga bekal para nelayan. Kalau tetap bertahan di lokasi yang tercemar tentu akan semakin memperburuk nasib para nelayan.

“Dapat tangkapan ikan, tapi dalam keadaan mati semua. Dijualpun tidak laku, karena pembeli dan nelayan juga takut,” ungkapnya.

Mukhlisin sesama nelayan lainnya, tidak bisa menuding pabrik mana yang diduga mencemari karena di wilayah pantura Lamongan banyak pabrik.

Matinya ikan, seperti rajungan, dagingnya membusuk dan warnanya hitam, juga ada yang kuning.

Sampai hari ini, Pemkab Lamongan belum melakukan penanganan apapun untuk membantu masalah yang dihadapi nelayan, termasuk melakukan penyelidikan ke lokasi dugaan pencemaran.



Terpaksa, pihaknya sampai tiga kali membawa sampel, pertama dan kedua sampel ikan rajungan dan Rabu (10/11/2016) membawa sampel tanah lumpur yang diambil nelayan dari dasar laut.

“Jadi kita sudah tiga kali membawa sampel ke Kantor Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Dinas Perikanan dan Kelautan Lamongan,”katanya.

Dari tiga sampel yang diusung ke Kantor Laborat Dinas Perikanan dan Kelautan, baru sampel pertama yang sudah dilabeli, yakni ikan–ikan itu diduga tercemar zat besi.

Informasi itupun hanya disampaikan secara lisan saat Muhklisin membawa sampel kedua.

“Mestinya pemerintah cepat tanggap dan memberikan rekomendasi kepada dinas terkait, seperti Badan Lingkungan Hidup (BLH) untuk meninjau dan meneliti di lapangan,”tandasnya.

Sementara itu Kepala Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Muntalim kepada SURYA.co.id menyatakan dari hasil lab sementara diketahui ada zat besi dalam daging ikan.
"Jadi itu hasil sementara,"kata Muntalim..

Pihaknya mengaku masih harus melakukan penelitian lebih luas, karena masih banyak tahapan – tahapan dan kriteria yang memerlukan penelitian lebih detil.

Meski begitu, Muntalim menjamin ikan-ikan tangapan para nelayan Paciran bisa dijual dan dikonsumsi. “Bisa, bisa kok dijual dan dikonsumsi. Insya Allah tidak apa-apa,” katanya.
Sumber : tribunnwes.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply