Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Intrusi Air Laut Makin Parah, Cirebon Krisis Air Tanah

Pemuda Maritim - Sebagian wilayah Cirebon mulai mendapatkan air payau akibat minimnya pasokan air tanah. Disinyalir, masyarakat Kabupaten Cirebon semakin kesulitan menikmati air bersih akibat rumah air yang kian terkikis. Pengamat lingkungan dari Yayasan Buruh dan Lingkungan Hidup, Yoyon Suharyono mengungkapkan, tingkat intrusi atau naiknya batas air tanah dengan air laut ke daratan di kabupaten sudah sangat tinggi. Wilayah garis pantai hingga kawasan Plumbon, dipastikan sudah mendapatkan air payau.

”Konsumsi air tanah yang berlebihan membuat pasokannya habis, kekosongan pasokan itu akhirnya dimasuki oleh air laut,” ucap Yoyon, Senin 7 November 2016. Pembangunan hotel yang terus bertumbuh diduga turut menyumbang krisis air tanah. Pasalnya, hotel seringkali menyedot air tanah untuk kebutuhannya, bahkan satu hotel disebut bisa menyedot hingga sepuluh sumur.

Hal itu pun menjadi dampak nyata yang dirasakan masyarakat kota/kabupaten Cirebon. Apalagi, hulu air tanah di Kabupaten Kuningan pun terus mengering seiring dengan rendahnya upaya penyelamatan rumah air di kaki Gunung Ciremai sebagai pusatnya.

"Pemakaian air terus bertambah, tapi sumber/rumah airnya tidak diperhatikan kelangsungannya. Sampai saat ini, kebutuhan air tidak disertai upaya pemeliharaan sumber air," katanya. Yoyon mengungkapkan, masyarakat Kuningan dan Kota/Kabupaten Cirebon hanya mengandalkan pasokan air bersih dengan debit terbatas dari 53 mata air yang semula berjumlah 1.500 mata air. Sejumlah titik mata air itu pun bahkan mulai terusik oleh pembangunan, penebangan pohon, dan galian tanah.

Minimnya pemeliharaan dan keberadaan tanaman penadah hujan bahkan membuat pasokan air tanah tergantikan menjadi lumpur yang turun bersamaan dengan air hujan. Tidak heran, jika Yoyon menyebut kawasan penerima air dari Kuningan mulai mengalami krisis air bersih. Namun, bukan hal mudah untuk menyelamatkan rumah air terlebih mata airnya kini sudah terbuka dan cadangan air pun tidak ada. Diperlukan penanaman sejumlah tanaman yang dibutuhkan untuk meremajakan rumah air, seperti tanaman gayam, beringin, loa, sukun, atau bambu.

"Tapi, upaya penanaman pohon bukan perkara mudah. Kami pasti berbenturan dengan birokrat atau swasta yang kurang memiliki perhatian pada lingkungan," katanya memaparkan. Pembabatan pohon di sejumlah titik yang kemudian menjadi bangunan, diantaranya perumahan menjadi bukti nyata bahwa belum ada regulasi yang mendukung penuh kelangsungan lingkungan di kabupaten.

Senada dengan Yoyon, Kasubid Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Cirebon, Iman Hidayat mengungkapkan ancaman yang akan dihadapi masyarakat Kabupaten Cirebon terkait air tanah yang akan sulit diperoleh. Ia bahkan mengatakan, dalam beberapa tahun ke depan Kabupaten Cirebon akan kehilangan pasokan air tanah. Hanya saja, Iman tidak dapat memastikan kapan pasokan tersebut akan benar-benar hilang.

"Saat ini saja, masyarakat sebenarnya mengonsumsi air permukaan bukan air tanah dalam. Karena pasokan air di dalam saja sudah kering," ujar Iman.

Maraknya galian C yang bertumbuh di sejumlah titik di Kabupaten Cirebon turut memperparah kebutuhan air tanah. Pasalnya, debit air tanah akan terus menurun seiring berkurangnya daerah resapan yang digunakan sebagai lokasi galian C. Parahnya lagi, beberapa lokasi galian C berada di titik hulu sungai. Padahal, pihak BLHD telah mengimbau agar pengusaha galian tidak membuat galian C di wilayah hulu sungai.

"Kalau galian C di hulu sungai dibiarkan, semakin lama keadaan hulu sungai akan semakin kritis dan persediaan air tanah pun semakin terkuras," tutupnya. Oleh karena itu, ia mengharapkan kesadaran masyarakat untuk memperhatikan keberadaan hulu sungai dengan membiarkan tanaman atau pepohonan tumbuh di sekitarnya.
Sumber : pikiran-rakyat.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply