Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Kapal Dilarang Masuk Malaysia, Nelayan Usulkan Pembangunan Ruang Pendingin

Pemuda Maritim - Pemerintah bisa memberikan solusi alternatif untuk mengatasi larangan masuknya kapal-kapal kayu milik nelayan asal Kabupaten Nunukan ke Malaysia.

Ketua Asosiasi Nelayan Sebatik, Muhammad Jabbar, mengatakan, selama ini nelayan di Kabupaten Nunukan tidak punya pilihan pasar selain menjual ke Tawau, Negara Bagian Sabah, Malaysia.

Selain karena pertimbangan jarak yang begitu dekat, dapat ditempuh kurang 30 menit, mereka juga sudah puluhan tahun terbiasa bertransaksi di Tawau.

Pelarangan masuknya kapal-kapal kayu milik nelayan asal Indonesia bukan berarti tidak ada solusi sama sekali untuk mengatasinya.

Dia menyebutkan, pemerintah bisa membangun pabrik es sekaligus ruang pendingin atau cold storage.

"Kendalanya memang masalah itu. Pabrik es ada tetapi masih skala kecil. Kemudian cold storage kita nggak ada,"ujarnya, Senin (31/10/2016).

Dia mengatakan, dengan memiliki cold storage, nelayan juga berpotensi melakukan pengiriman hasil tangkapan di laut ke Surabaya, Jawa Timur.

"Jangka panjangnya memang akan baik untuk negara kita. Tetapi jangka pendeknya memang rugi nelayan kita," katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nunukan, Petrus Kanisius mengungkapkan, Majelis Keselamatan Negeri (MKN) Sabah, efektif melakukan pelarangan masuknya kapal-kapal kayu pengangkut ikan ke Malaysia sejak Senin (24/10/2016).

Dia mengatakan, surat dimaksud bukan hanya ditujukan kepada nelayan dari Indonesia.

“Larangan yang sama berlaku untuk Filipina dan Thailand,” ujarnya.

Jabbar mengakui, pelarangan itu berdampak pada menurunnya pengiriman ikan dari Kabupaten Nunukan ke Tawau.

"Pengiriman ikan anjlok sampai 70 persen," ujarnya.

Dia menyebutkan, dari data Pengkalan Pendaratan Ikan (PPI), sebelum keluarnya larangan dimaksud, nelayan di Pulau Sebatik saja bisa mengirimkan ikan hingga 800 ton per bulan.

“Begitu larangan berlaku, ikan-ikan bandeng asal Tarakan ikut mandek,” ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, para nelayan tetap berusaha menjual ikan dengan melakukan transaksi di laut.

"Sekarang masih berjalan jual beli ikan. Tetapi di tengah laut. Nelayan Malaysia mengambil ikan di wilayah Sebatik Malaysia," katanya.

Karena itupula, pelarangan masuknya kapal-kapal kayu pengangkut ikan itu belum berpengaruh pada harga.

Sebelumnya pada April lalu, Malaysia juga melarang masuknya kapal-kapal kayu pengangkut barang asal Nunukan. Belakangan setelah dua bulan kemudian, pemilik kapal kayu diberikan kelonggaran dengan syarat-syarat yang ketat.

Muhammad Rezky, seorang pedagang mengatakan, meski membuka kembali jalur perdagangan Nunukan-Tawau dengan membolehkan masuknya kapal kayu, otoritas Negara Bagian Sabah menerbitkan aturan disertai biaya tinggi. Kapal-kapal yang masuk harus bertambat di pelabuhan internasional yang konsekuensinya pada kenaikan harga.

Dia mengungkapkan, biasanya saat bertambat di pelabuhan tradisional mereka hanya membayar biaya RM 1.500 atau sekitar Rp 5.100.000 dengan kurs RM1 sama dengan Rp3.400.

“Kalau sekarang biaya tambat dan ongkos lain di pelabuhan internasional mencapai RM 8.000. Ini akal-akalan Malaysia untuk mengambil keuntungan sepihak,” ujarnya.
Sumber : tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply