Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Kebijakan Malaysia Paksa Nelayan Tidak Ekspor Ikan

Pemuda Maritim - Akibat peraturan yang diberlakukan Malaysia terkait ketentuan ekspor ikan ke Malaysia wajib menggunakan jenis kapal GT 35, membuat sejumlah nelayan mengeluh dan terpaksa tidak mengekspor ikan ke Malaysia.

Itu diakui Ketua Persatuan Pedagang Pasar Ikan (PPI) Nunukan Ancu, kepada pewarta harian ini. Dirinya mengungkapkan, sejumlah pedagang ikan lebih memilih menjual ikan impor dari Malaysia ketimbang mengekspor ikan, lantaran tidak sanggup mengikuti peraturan dari Malaysia.

Ancu mengatakan, ketentuan yang berlaku dari negara tetangga jika ingin mengekspor ikan wajib menggunakan kapal GT 35. Sedangkan, standar kapal GT 35 biasanya mengangkut ikan hingga mencapai 50 ton. Di Nunukan sendiri, menurut Ancu, kebutuhan rata-rata pedagang ikan hanya membutuhkan paling banyak lima hingga sepuluh ton ikan dalam seharinya, begitu sebaliknya jika nelayan menghasilkan ikan lokal.

“Jelas tidak ada untungnya, jika kami mengikuti peratuan dari Malaysia. Bayangkan saja, beli kapalnya sudah berapa memang, modalnya tidak akan tertutupi,” kata Ancu ketika dikonfirmasi Radar Nunukan¸Senin (14/11).

“Bagaimana jika ikan yang kami bawa melebihi standar kebutuhan? Kalau tidak laku ikan kami mau kemanakan, pasti akan dibuang, jelas rugi sekali. Kalau juga ada ikan dari sini, terus hanya bawa 10 ton menggunakan kapal standar 50 ton pasti rugi, hal itulah yang membuat kami tidak mengeskpor ikan lagi,” jelas Ancu menambahkan.

Hal tersebut juga dikeluhkan salah seorang pedagang ikan. Rahman, pedagang ikan di Pasar Tradisional Jalan Yamaker, Kelurahan Nunukan Utara. Ia mengeluhkan peraturan yang sewaktu-waktu sering digonta-ganti Malaysia.

Sebelum diwajibkan menggunakan kapal GT 35, nelayan masih bisa mengeskpor ikan dengan menggunakan kapal di bawah standar kapal GT 35. Awalnya sempat berjalan mulus dengan kembali bisa mengekspor ikan, namun lagi-lagi Pemerintah Malaysia membuat kebijakan baru dan mewajibkan nelayan jika ingin mengekspor menggunakan kapal GT 35.

“Baru juga empat bulan berjalan dari perubahan peratuan perahu kayu ke kapal biasa, adalagi peraturan harus pakai kapal GT 35. Kapal biasa saja harganya mencapai Rp 200 juta, itupun membutuhkan waktu lama baru tertutupi modalnya, apalagi mau pakai kapal GT 35, rugi sekali. Jadi mending tidak usah ekspor ikan,” keluh Rahman.

Untuk itu, dirinya pun meminta ada perhatian dari pihak pemerintah terkait permasalahan ini. Ia meminta pemerintah harusnya mempertimbangkan peraturan yang diberikan Malaysia jika dampaknya merugikan nelayan.
Sumber : prokal.co

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply