Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Paus yang Terdampar Itu Dilarung ke Laut…

Pemuda Maritim - Matahari belum sepenuhnya muncul di ufuk timur, ketika pukat Yanto dan Ruslan terjaring sesuatu. Kakak adik asal Desa Padang Tikar 1, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, itu berharap mendapatkan ikan besar. Namun, benda yang terjaring itu tidak menunjukkan gerakan yang kuat. Keduanya mulai bertanya, apa gerangan yang tersangkut itu?

Ketika jaring sedikit terangkat ke permukaan, betapa terkejutnya Yanto dan Ruslan dengan apa yang dilihatnya. “Saya langsung berpikir ini paus,” ujar Yanto yang mengatakan, saat itu masih pukul 05.30 WIB, di penghujung Oktober. Mereka memutuskan kembali ke darat.

Yanto melihat makhluk tersebut telah melemah. Ada beberapa luka di tubuhnya. “Kami coba menyelamatkannya dengan membawa ke pantai, namun terlambat.”

Dharma Wira (40), Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Kubu Raya, yang mendengar kabar itu segera ke lokasi. “Saya menghubungi Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Kalau memang itu paus artinya itu satwa dilindungi. Yanto dan Ruslan merupakan nelayan pesisir, kapal mereka juga tidak begitu besar. Paling dalam 14 meter. Kalau lebih ke tengah, kapalnya tidak mampu,” tambahnya.

Menurut Wira, ketika ia tiba di lokasi, Parit Timur Kotalaya, satwa tersebut sudah mati. Warga memutuskan untuk melarung bangkai paus tersebut ke laut. “Pasalnya, mereka tidak cukup tenaga untuk membawa bangkai tersebut ke darat, menguburnya.”

Albert Tjiu, Manager WWF Indonesia Program Kalimantan Barat menyayangkan satwa yang diduga paus tersebut dilarung ke laut. Jika sampelnya diambil, tentunya dapat dipastikan jenis paus tersebut beserta informasi terdamparnya. Albert juga telah berkomunikasi dengan Daniella Kreb, peneliti mamalia laut. Berdasarkan foto-foto yang ada paus tersebut jenis Bryde’s whale. “Usianya diperkirakan bayi, menurut Daniella masih juvenile.”

Paus Bryde (Bryde’s whale) merupakan paus berukuran tidak lebih dari 25 ton yang menyukai perairan tropis dan hangat. Penyebab terdamparnya paus tersebut hingga ke perairan dangkal, diduga akibat terseret arus bawah laut yang kuat. “Hal yang biasa terjadi dan menyebabkan mamalia laut besar terdampar,” ujar Albert.

Sustyo Iriyono, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, menjelaskan pihaknya telah menyiapkan tim yang akan bertolak ke Padang Tikar untuk melakukan nekropsi, bersama WWF Indonesia. Berdasarkan informasi dari kelompok Pengelolaan Sumber Daya Alam-Coastal Community Development Project, International Fund for Agricultural Development (CCDP-IFAD), setelah diukur panjang satwa tersebut sekitar 6 meter dengan bobot kurang lebih 500 kilogram. Berdasarkan hasil musyawarah Muspika, Babinsa dan pemuka masyarakat, diambil kesepakatan bangkai paus tersebut dihanyutkan ke laut.

“Tadinya, tim siap berangkat guna memastikan jenisnya dan mengambil sampel untuk merunut, mendeteksi faktor penyebab kematian, sekaligus mengubur mamalia laut tersebut di suatu lokasi,” kata Sustyo.

Paus yang terdampar yang diperkirakan merupakan jenis Bryde’s whale. Sumber: akun Facebook Ridwan Ranchhodas Chanchad

Paus yang terdampar yang diperkirakan merupakan jenis Bryde’s whale. Sumber: akun Facebook Ridwan Ranchhodas Chanchad

Hal baru

Dwi Suprapti, Koordinator Marine Species Conservation WWF-Indonesia, juga mengindentifikasi satwa tersebut sebagai Bryde’s whale. “Pausnya masih anakan. Dari fotonya terlihat kurus dan sakit,” ujarnya.

Dwi sebenarnya berharap, bisa melakukan nekropsi terhadap mamalia laut itu, untuk melihat pencernaanya. Keberadaan Bryde’s Whale adalah hal baru. WWF juga telah menerbitkan laporan tentang kebisingan di laut yang berpengaruh terhadap paus dan mamalia laut.

Dwi mengatakan, hasil penelitian tersebut menunjukkan berbagai masalah yang dialami paus dan mamalia laut yang hidup di perairan yang bising. “Mamalia laut kesulitan menemukan pasangan dan mencari makan. Laut yang bising juga berpotensi mengganggu paus dari habitat utama mereka,” kata dia.

Semua spesies mamalia laut tersebut diketahui mampu membuat suara. Kebanyakkan vokalisasi timbul dari pergerakan udara dari satu daerah ke daerah lainnya.

Dwi melanjutkan, bagi mamalia laut, mendengar sama pentingnya dengan melihat bagi manusia. Mamalia laut menggunakan berbagai jenis suara untuk komunikasi, dan biosonar untuk mencari makan dan mendapatkan petunjuk arah. Suara-suara asing yang ditimbulkan dari kegiatan manusia berpotensi besar mengganggu komunikasi paus dan lumba-lumba dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

“Lalu lintas kapal berukuran besar, serta gelombang sonar yang dimanfaatkan untuk eksplorasi minyak lepas pantai dan pelatihan militer menambah kebisingan pada ekosistem laut,” paparnya.
Sumber : www.mongabay.co.id

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply