Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » RI Minta Malaysia Jamin Keselamatan Nelayan WNI

Pemuda Maritim - Aksi penculikan nelayan warga negara Indonesia (WNI) kembali terulang oleh kelompok bersenjata yang diyakini terkait militan Islam Filipina, Abu Sayyaf, di perairan Lahad Datu, Sabah, Malaysia, Sabtu (19/11). Peristiwa itu menimpa dua nelayan yang bekerja secara legal di kapal penangkap ikan berbendera Malaysia.

Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Malaysia, Marsekal TNI (Purn) Herman Prayitno, mengatakan Konsulat RI (KRI) di Tawau, Malaysia sudah menindaklanjuti peristiwa itu dengan melakukan kunjungan ke Kunak, sekitar 75 kilometer dari Tawau dan 150 kilometer dari Lahad Datu.

Herman mengatakan KRI Tawau sudah meminta aparat keamanan Malaysia agar lebih meningkatkan keamanan di wilayah perairan mereka. Herman juga mendesak jaminan keselamatan untuk para nelayan WNI yang banyak bekerja pada perusahaan penangkap ikan Malaysia.

“Meminta para perusahaan penangkap ikan di wilayah kerja KRI Tawau untuk sementera tidak melibatkan WNI atau anak buah kapal (ABK) dalam penangkapan ikan sampai ada jaminan keselamatan untuk para nelayan,” tandas Herman saat dihubungi SP lewat pesan singkat, Selasa (22/11).

Herman juga mendesak agar pihak perusahaan Malaysia ikut bertanggung jawab karena kedua ABK tersebut adalah pekerja yang sah dan diculik saat melakukan pekerjaan. Perusahaan, juga wajib memberikan bantuan keuangan kepada pihak keluarga selama kedua ABK itu diculik.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan informasi penculikan kedua nelayan itu diterima dari Asosiasi Pemilik Kapal sekitar satu jam setelah peristiwa tersebut. Kedua WNI itu adalah Saparuddin Bin Koni (43) sebagai kapten kapal asal Sulawesi Selatan dan Sawal Bin Maryam (36) yaitu wakil kapten juga asal Sulsel.

“Segera setelah memperoleh info tersebut, Menteri Luar Negeri meminta KRI Tawau melakukan pendalaman. Hari Minggu (20/11), tim perlindungan WNI KRI Tawau berkunjung ke Kunak dan Lahad Datu untuk menemui 11 kru kapal lainnya yang bebas, keluarga sandera, dan aparat penegak hukum Malaysia,” kata Iqbal.

Iqbal mengatakan Menlu Retno Marsudi juga sudah berbicara dengan Menlu Malaysia dan Filipina untuk kembali meminta perhatian kedua negara tersebut. Pihak keluarga dari kedua WNI yang diculik itu juga sudah diberi kabar. “Informasi terakhir bahwa kedua WNI itu saat ini sudah dibawa ke Sulu,” ujar Iqbal.

Dalam insiden sebelumnya, pada 5 November lalu, dua nahkoda WNI juga diculik di lokasi perairan yang sama, Lahad Datu, saat sedang bekerja. Mereka adalah nahkoda asal Buton, Sulawesi Tenggara, yang bekerja secara resmi di kapal penangkap ikan Malaysia.
Sumber : www.beritasatu.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply