Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Suka Makan Seafood? Kenali Jenis Ikan Laut yang Terpapar Merkuri Tinggi

Pemuda Maritim - Apakah Anda dan keluarga senang makanan laut seperti kerang, udang, kepiting, cumi-cumi, dan lain-lainnya?

Tak ada salahnya untuk tetap berhati-hati dengan zat kimiawi yang mungkin saja terdapat dalam seafood yang dimakan. Salah satu zat yang paling berbahaya baik tubuh adalah merkuri.

Zat kimia ini merupakan hasil pembuangan dari berbagai aktivitas manusia, seperti pembakaran, pertanian, dan limbah dari pabrik-pabrik yang menggunakan merkuri. Limbah rumah tangga maupun limbah dari pabrik, biasanya dibuang ke sungai dan berakhir pada laut.

Di dalam air, merkuri berubah menjadi zat yang disebut dengan metilmerkuri. Kemudian metilmerkuri berikatan dengan protein yang ada pada otot ikan.

Jika Anda mengonsumsi ikan atau seafood yang mengandung merkuri, maka merkuri akan terakumulasi di dalam tubuh, bahkan dapat mempengaruhi ASI pada ibu menyusui.

Selanjutnya, akumulasi tersebut juga dapat meracuni sistem saraf, menggangu tumbuh kembang janin pada ibu hamil yang mengonsumsi seafood terpapar merkuri.

Lantas apakah semua ikan laut mengandung merkuri? Sebenarnya, hampir semua ikan maupun sumber makanan laut lainnya telah terkontaminasi merkuri.

Untuk orang yang sehat, mengonsumsi ikan laut atau seafood  yang terkontaminasi merkuri tidak akan menimbulkan masalah. Contohnya saja di Amerika, diketahui bahwa orang yang sering mengonsumsi ikan laut memiliki kadar merkuri dalam darah yang dianggap aman, yaitu kurang dari 5,8 mcg per liter.

Namun, pada dasarnya seafood merupakan sumber makanan yang baik dan tinggi protein serta berbagai zat gizi lain seperti zat mineral, lemak tak jenuh, dan asam lemak omega-3.

Yang perlu diperhatikan adalah kelompok usia yang sangat rentan dengan dampak dari kontaminasi merkuri.
 Sekitar 80 nelayan tradisonal di Desa Sialang Pasung, Kecamatan Rangsang Barat mengeluhkan rumitnya pengurusan Kartu Nelayan di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kepulauan Meranti.

Pasalnya, hingga saat ini puluhan nelayan tersebut belum juga memiliki kartu nelayan.

Padahal, puluhan nelayan itu telah mengurus kartu tersebut sejak Desember 2015 lalu.

"Desa lain sudah banyak yang keluar. Sementara mereka baru mengurus beberapa minggu lalu," ujar Amran, seorang nelayan asal Desa Sialang Pasung, Minggu (13/11/2016).

Padahal, Amran sangat berharap dengan kartu tersebut, apalagi dengan kartu itu ia bisa mendapatkan asuransi nelayan.

"Saya tidak tau apa maksud DKP yang hingga saat ini belum juga menerbitkan kartu kami," ujarnya.
Sumber :  tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply