Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Berasal dari Indonesia, 1,3 Juta Sampah Plastik di Laut

Pemuda Maritim - Persoalan sampah menjadi hal yang penting untuk diidentifikasi. Pengelolaannya sangat berpengaruh terhadap pembangunan kota atau negara secara berkelanjutan.

Berita Lainnya:  Inovasi Baru, Sampah Plastik Bisa Jadi Bata Rumah

Direktur United Nations Development Programme (UNDP) Christophe Bahuet mengutarakan hal tersebut saat diskusi "Memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Melalui Solusi Pengelolaan Sampah", di Kompas Gramedia, Jakarta, Senin (5/12/2016).

"Masalah sampah sangat relevan menjadi pembahasan bagi Indonesia. Karena, tahun lalu sudah diidentifikasi bahwa pencemaran laut terbesar kedua dari Indonesia dengan 1,3 juta plastik," ujar Christophe.

Menurut dia, pencemaran laut dapat menimbulkan kerugian bagi negara-negara dunia sebesar 1,4 miliar dollar Amerika Serikat.

Tidak hanya itu, menurut riset dari Forum Ekonomi Dunia, apabila pola ini tidak berubah, maka akan lebih banyak plastik daripada ikan di laut pada 2050.

Karena berdampak besar, sampah menjadi salah satu fokus utama dalam pembangunan berkelanjutan yang tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

"Dampak pengelolaan sampah terhadap kemampuan Indonesia melalui SDG tidak dapat diremehkan. Selain kehidupan di laut, kehidupan darat juga dipengaruhi pengelolaan sampah yang buruk," kata Christophe.

Ia mencontohkan, dampak buruk dari sampah tersebut terjadi di Bantar Gebang, Bekasi. Seperti diketahui, sebanyak 6.000 ton sampah dibuang setiap hari ke kota ini.

Akibatnya, sejumlah penduduk yang tinggal di dekat tempat pembuangan menderita infeksi kulit, gangguan pernapasan dan sakit perut.

"Situasi memang buruk, tapi ada peluang dan pilihan yang dapat memperbaiki situasi ini. Ada peluang untuk mengubah sampah jadi energi bahkan menjadi sumber penghasilan," sebut Christophe.

Dalam konteks ini, menurut dia, pemerintah harus berperan aktif melalui kebijakan individu dan swasta.

Sementara dari masyarakat, bisa mengubah perilaku untuk mengurangi pembuangan sampah dengan mendaur ulang atau menggunakan kembali sampah.

Selain itu, kata Christophe, perorangan bisa membawa tas sendiri ketika belanja dan berhenti meminta plastik.

"Kita juga bisa bawa cangkir sendiri dan berhenti minta gelas plastik di coffee shop. Sebenarnya banyak yang bisa dilakukan," tutur dia.
Sumber : tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply