Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Diduga Ilegal Fishing, Nelayan Bontang Diusir

 Pemuda Maritim - Lima kapal nelayan asal Bontang diusir Sub Pos Angkatan Laut (AL) Marangkayu, Kutai Kartanegara (Kukar) saat menangkap ikan di Perairan Kersik, Kecamatan Marangkayu, Kukar, Ahad (25/12). Kapal dengan puluhan anak buah kapal (ABK) itu bermula dari laporan dugaan Ilegal fishing disampaikan Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) Sumber Laut Kecamatan Marangkayu.

“Sekitar pukul 12.45 WITA, kami mendapat telepon ada kapal lakukan ilegal fishing dilakukan nelayan asal Bontang,” kata Komandan Sub Pos AL Marangkayu, Letda Laut Pelaut, Karel Satriawan kepada Koran Kaltim, Ahad (25/12).

Kapal yang berhasil ditahan kata Karel adalah Kapal Putri Malu 03 dengan 25 Gross Ton (GT) yang bisa memuat puluhan ton ikan. Kapal tersebut diduga gunakan jaring yang tidak sesuai standar, setelah diperiksa, jaring tersebut memiliki lebar lubang sekitar 2 inci lebih.

“Setelah koordinasi dengan DKP, jaring tersebut sesuai standar. Jaring yang tidak sesuai itu yang lubang jaringnya dibawah 2 inci. Sehingga, masalah nelayan Kersik melaporkan masalah tersebut,” ucapnya.

Apalagi, hingga sejam tidak ada laporan resmi dari Pokmaswas, TNI AL membebaskan nelayan tersebut. Hanya saja, nelayan diberi pembinaan dan dihalau agar tidak menangkap ikan di wilayah tersebut. Sebab, wilayah itu merupakan objek vital nasional (obvitnas) wilayah PT Chevron Indonesia Company, terlebih wilayah tersebut daerah terumbu karang, sehingga dikhawatirkan merusak.

Meski demikian, kata Karel, saat Sub Pos TNI AL Marangkayu terbentuk, sangat banyak nelayan yang ditangkap karena ilegal fishing. Dalam sepekan, nelayan yang menangkap ikan di Marangkayu dan Muara Badak ditangkap, karena gunakan bom ikan dan trawl atau pukat harimau. “Namun, sejak Pos TNI AL ada 12 bulan lalu sampai sekarang, mulai berkurang ilegal fishing. Itu pentingnya laporan nelayan dan masyarakat, termasuk Pokmaswas,” bebernya.

Terpisah, Ketua Pokmaswas Sumber Laut Marangkayu, Mahmud Ishak mengaku jika laporan kapal asal Bontang lakukan ilegal fishing dari salah satu nelayan di Desa Kersik, Abdul Wahab. Saat itu, dilaporkan ada 7 kepala dengan 25 GT yang memancing di 2 mil dari Pantai Biru Kersik. Kemudian, tengah hari kembali datang 3 kapal. “Namun, saat itu 5 kapal pulang. Jadi, tinggal 5 kapal,” ucapnya.

Kapal itu terlihat nelayan Kersik menangkap ikan gunakan pukat Seine Nets (pukat tarik) jenis Pukat Payang dan Pukat Centrang di wilayah Pantai Biru Kersik. Hanya saja, sewaktu mau dilaporkan ke TNI AL, pihaknya terkendala. Kapal speadboat Pokmaswas rusak, sehingga nelayan yang sempat ditahan TNI AL akhirnya dibebaskan.

Soal jaring, kata dia, ukuran 2 inci itu tetap dilarang, apalagi dibawah 4 mil dari pantai. Sebab, wilayah tersebut merupakan tempat terumbu karang, jika terkena jaring maka jelas akan merusak karang dan ikan akan kehilangan habitatnya.

“Tujuh bulan lalu saya bersama Koramil Marangkayu pernah usir mereka, saat itu ada 4 kapal. Sudah diperingatkan, jika sampai 3 kali, kami akan tarik alat tangkap,” tegasnya.

Kata dia, Perairan Marangkayu memang menjadi tujuan nelayan, seperti dari Bontang karena kaya akan hasil laut seperti ikan Kakap Merah dan ikan putih. Namun, karena banyaknya ikan, banyak nelayan, khususnya dari luar Marangkayu menangkap ikan dengan cara ilegal, seperti bom ikan, pukat harimau atau trawl dan lainnya. “Untuk bom ikan sudah 4 kali kami tangkap, pukat harimau itu sudah sering dan tidak bisa dihitung,” terangnya. 
Sumber : www.korankaltim.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply