Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Pakai Laser dan Bakteri dari Laut, Ilmuwan Temukan Terapi Kanker Prostat

 Pemuda Maritim - Kanker prostat umumnya muncul menyerang pria di usia senja. Terapi pengobatannya tidak jauh berbeda dengan kanker lain, hanya saja karena faktor usia seringkali efek samping terapi justru bisa lebih merusak dari kanker itu sendiri.

Oleh karena itu satu studi yang dipublikasi di New England Journal of Medicine tahun 2016 bahkan pernah menyebut sebaiknya kasus kanker prostat cukup diamati saja. Apabila memang kanker prostat terbukti dan masih dalam stadium awal, tergesa-gesa memberikan banyak terapi justru akan membawa efek samping yang lebih buruk.

Terkait hal tersebut studi lain terbaru yang dipublikasi di jurnal The Lancet Oncology menemukan terapi kanker prostat yang berpotensi aman untuk digunakan. Dengan menggunakan laser dan bakteri dari laut dalam peneliti dari University College London berhasil menghilangkan setengah kasus kanker prostat stadium awal dari 413 responden.

Profesor Mark Emberton selaku salah satu peneliti menjelaskan bakteri laut dalam dipakai sebagai obat. Sifat spesial dari bakteri adalah ia akan melepas racun pembunuh sel ketika terpapar cahaya.

Peneliti awalnya menyuntikkan obat dari bakteri pada peneliti. Setelah itu sebanyak 10 serat optik yang bisa menembakkan laser dimasukkan ke tubuh pasien lewat area antara anus dan testis menuju kanker prostat.

Ketika laser dinyalakan, obat akan bereaksi mengeluarkan racun yang akan membunuh sel-sel kanker. Lewat cara tersebut tingkat kerusakan jadi bisa lebih dikendalikan.

"Untuk memiliki sebuah terapi baru yang dapat kita terapkan pada pasien yang pantas menerimanya dan bebas efek samping benar-benar transformatif," kata Prof Mark seperti dikutip dari BBC, Jumat (23/12/2016).

Studi masih terus berlanjut dengan fokus penelitian mencoba mengungkap siapa saja yang bisa mendapatkan manfaat paling maksimal dari terapi.
Sumber : health.detik.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply