Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Ratusan Kapal Nelayan Pengguna Cantrang di Jateng Terancam Tak Beroperasi

Pemuda Maritim - Mulai pekan depan ratusan kapal di Jawa Tengah terancam tak bisa beroperasi karena masih banyak nelayan menggunakan cantrang.

Mereka belum mengganti alat tangkap sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 2 tahun 2015. Padahal, toleransi penggunaannya berakhir 31 Desember 2016.

Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo Kabupaten Pati, Jafar Lumban Gaol, mengatakan di Pati ada sekitar 800 kapal menggunakan cantrang.

Sedangkan yang masih dalam proses pengurusan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) baru ada 80 kapal. “Dari jumlah itu, yang sudah siap beroperasi Januari 2017 hanya ada 17 kapal,” kata Jafar, Senin (26/12/2016).

Menurut dia masih banyaknya nelayan yang belum mengganti alat tangkap, karena butuh biaya yang sangat besar. Padahal, mereka masih banyak yang memiliki tanggungan utang dengan perbankan.

Pemilik kapal asal Juwana, Pati, Teguh Utomo, mengungkapkan ia sudah mengganti cantrang ke purse seine (pukat cincin) dan menghabiskan biaya sekitar Rp 4 miliar.

Besarnya biaya karena banyak komponen yang harus diubah dan diganti. Di antaranya, jaring, gardan, freezer, lampu penerangan, membayar tukang untuk renovasi kapal, dan lain-lain. Perubahan tersebut juga membutuhkan waktu sekira empat bulan.

“Biaya sebesar itu juga kami dapat dari hutang di bank,” kata pemilik kapal berkapasitas 93 gross tonage (GT) tersebut.

Pemilik kapal dari Kabupaten Batang, Aji Setiawan, mengaku tak mampu mengubah kapal karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Kapal berkapasitas 86 GT yang ia nakhodai akan disandarkan di pelabuhan.

“Izin operasionalnya sudah habis, kami juga belum bisa mengganti alat tangkap, biayanya sangat tinggi,” kata Aji.

Ia memperkirakan untuk merenovasi kapalnya butuh Rp 2,5 miliar dan butuh waktu cukup lama menyiapkan dana sebesar itu.

“Terus terang, kami belum siap mengganti alat tangkap, karena modalnya belum ada,” ujar dia.

Seorang anak buah kapal dari Pekalongan, Rohani, berharap pemerintah memperpanjang waktu pelarangan untuk nelayan di Jateng.

Sebab, selama 20 tahun lebih ia hanya mengoperasikan alat tangkap cantrang, sehingga belum memiliki keahlian pada alat tangkap lainnya.

“Kalau dilarang ya kita bakal sengsara, nganggur. Kami belum bisa menggunakan alat tangkap lain,” ungkap Rohani.

Wakil Ketua Front Nelayan Bersatu Batang, Casroli, mengatakan, pihaknya mendesak larangan cantrang diperpanjang sampai tiga tahun mulai 2015-2018.

Pihaknya mengancam akan menggelar aksi demonstrasi di Jakarta pada 2-3 Januari 2017, jika permintaan nelayan tak dikabulkan. 
Sumber : www.tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply