Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Tiongkok Berniat Akhiri Ketegangan dengan AS di Laut Tiongkok Selatan

Pemuda Maritim - Otoritas Tiongkok ingin meluaskan ikatan militer antara negaranya dengan pemerintahan baru AS di bawah Donald Trump. Dilansir Reuters, 30 November 2016, pernyataan Tiongkok ini cukup megejutkan karena selama ini hubungan AS dan Tiongkok dipenuhi gejolak, khususnya terkait Laut Tiongkok Selatan. Kedua negara kerap saling bersitegang saat bersinggungan dengan kasus Laut Tiongkok Selatan.

Kendati demikian, keduanya selama ini juga selalu berusaha untuk meningkatkan rasa saling pengertian sehingga bisa mengurangi kesalahpahaman, khususnya saat kapal patroli kedua negara bertemu di Laut Tiongkok Selatan. Kapal AS dan Tiongkok rutin melakukan patroli di perairan Laut Tiongkok Selatan. Selain itu, AS juga kerap menggelar latihan militer rutin beserta sekutunya, Korsel, Jepang, dan Filipina.

Dua pekan lalu, Tiongkok dan AS menggelar latihan militer bersama sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi kesalahpahaman. Oleh karena itu, saat Tiongkok kini ingin meluaskan hubungan militer dengan pemerintah Donald Trump, ini bisa dipahami.

Namun demikian, Trump sendiri kendati terpilihnya dia sebagai presiden AS disambut positif pemerintah Beijing, Trump sendiri punya sejumlah pandangan kontroversial soal Tiongkok. Semasa kampanye lalu, Trump beberapa kali mengkritik Tiongkok yang dianggapnya ingin menjadi polisi dunia. Trump pun ingin Jepang dan Korsel diijinkan mengembangkan snejata nuklir untuk mengantisipasi agresi Tiongkok.

Tiongkok merupakan salah satu negara pemilik senjata nuklir, tetapi Korsel dan Jepang bukan bagian dari negara yang dibolehkan mengembangkan senjata nuklir. Saat ditanya soal ini kepada pemerintah Tiongkok, jubir Kementerian Pertahanan Tiongkok Yang Yujun justru tak memberikan jawaban lain. Dilansir Reuters, Yang Yujun sama sekali tak mengungkapkan soal adanya ketegangan hubungan antara militer Tiongkok dan AS. Yang hanya menjawab bahwa negaranya berharap AS bisa memahami kekhawatiran dan kepentingan Tiongkok di konstelasi global.

"Tiongkok bersedia bekerja keras bersama pemerintahan baru AS mendatang untuk mempromosikan hubungan militer yang sehat dan stabil," ujar Yang.

Untuk diketahui, Trump akan mulai menjabat sebagai presiden baru AS pada 20 Januari 2017. Sejak terpilih sebagai presiden AS, banyak pernyataan kontroversial Trump yang dilontarkannya selama kampanye, tak lagi diakuinya. Sikapnya menjadi melunak setelah terpilih sebagai presiden AS.

Seperti diketahui, selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Tiongkok beberapa kali bersitegang dengan pemerintah AS. Salah satunya saat beberapa kali di awal tahun 2016, kapal perang AS dipergoki otoritas Beijing sedang berlayar di sejumlah pulau sengketa di Laut Tiongkok Selatan. Otoritas Kementerian Luar Negeri Tiongkok menuding AS telah melanggar aturan negaranya karena telah melayari wilayahnya tanpa izin.

Tiongkok menambahkan, mereka secara rutin memonitor kawasan Laut Tiongkok Selatan sehingga tak ada alasan bagi AS untuk menyangkal keberadaan kapalnya yang sempat masuk wilayahnya tanpa izin. Tiongkok selama ini mengklaim 95 persen wilayah Laut Tiongkok Selatan sebagai bagian dari kedaulatannya. Namun, klaim ini ditolak mentah-mentah oleh sejumlah negara tetangganya seperti Vietnam, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Taiwan.

Laut Tiongkok Selatan menjadi rebutan banyak negara karena kawasan tersebut bernilai strategis. Setiap tahun, kapal dagang dari berbagai negara di dunia melintasi jalur Laut Tiongkok Selatan yang menghasilkan pemasukan besar buat Tiongkok. Nilai total perdagangan di Laut Tiongkok Selatan, seperti dikutip Reuters, mencapai 5 triliun dolar AS setiap tahunnya. Tak heran, Tiongkok terus memperjuangkan klaimnya untuk menguasai kawasan tersebut. Hal yang sama juga dilakukan negara-negara lainnya yang juga mengklaim kepemilikan laut strategis di dunia tersebut

Sementara AS selama ini menanggapi kemarahan Tiongkok dengan mengatakan bahwa mereka tak pernah berupaya mengabaikan peringatan militer Tiongkok saat melintasi Laut Tiongkok Selatan. AS mengatakan, kapalnya beberapa kali melintasi Laut Tiongkok Selatan karena itu adalah bagian dari hak semua negara untuk menjalankan kebebasan bernavigasi di Laut Tiongkok Selatan.
Sumber : www.pikiran-rakyat.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply