Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » HNSI: Pemerintah Mesti Bantu Permodalan Bagi Nelayan

Pemuda Maritim - Pemerintah diminta proaktif menyelesaikan persoalan yang mendera nelayan Indonesia. Bukan hanya mengeluarkan berbagai kebijakan yang baru bisa menimbulkan ketegangan dan juga persoalan baru, pemerintah dituntut menyediakan bantuan permodalan dan ketersediaan awal sejumlah kebutuhan pokok bagi nelayan Indonesia.

Koordinator Bidang Energi dan Sarana Prasarana Perikanan DPP Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Siswaryudi Heru menjelaskan, salah satu persoalan utama yang tak kunjung diselesaikan oleh pemerintah adalah perihal pendataan jumlah nelayan Indonesia secara konkrit, pendataan berbagai persoalan di desa-desa nelayan, permodalan, kondisi sosial dan ekonomi nelayan dan lain sebagainya.

Seharusnya, menurut dia, dengan melakukan sensus nelayan Indonesia secara nasional, pemerintah bisa mengetahui berbagai persoalan ril nelayan Indonesia, sekaligus bisa mencarikan solusi atas persoalan itu.

"Sesungguhnya, harus dimulai terlebih dahulu dari adanya upaya sensus nelayan Indonesia secara nasional. Nelayan dan pemerintah kita sama-sama butuh sensus itu. Dari pelaksanaan sensus nasional nelayan itulah nantinya akan ketahuan secara ril apa saja persoalan dan pemetaan sekaligus solusi yang akan dilakukan,” tutur Siswaryudi Heru kepada redaksi, Selasa (31/1).

Meski ada sejumlah organisasi nelayan, menurut dia, tidak menunjukkan bahwa pendataan dan berbagai persoalan ril nelayan itu sama persoalannya. Misalnya, nelayan Indonesia di Pantai Timur Sumatera tentu memiliki persoalan yang lebih spesifik dengan persoalan nelayan di wilayah Jawa, demikian pula dengan nelayan di wilayah Indonesia Timur.

Selain itu, dengan Sesnsus Nelayan Indonesia secara nasional, akan terpetakan dengan jelas apa saja kebutuhan dan kondisi nelayan. Seperti, informasi yang menyebut bahwa kini kian banyak nelayan Indonesia yang meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan dikarenakan sudah tidak memberikan jaminan hidup sehari-hari, perlu juga menjadi perhatian pemerintah secara serius. Banyaknya nelayan yang menganggur dan malah beralih profesi menjadi buruh atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri, adalah indikasi nyata bahwa persoalan nelayan kian menggunung.

"Tetapi itu semua tidak bisa kita selesaikan hanya dengan berlandaskan asumsi-asumsi semata. Jika hanya asumsi-asumsi saja yang dikedepankan, tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Karena itulah sensus nelayan secara nasional sangat perlu dan itu pasti bisa dilakukan oleh pemerintah. Kelompok-kelompok nelayan pasti siap membantu dan mendukung sensus itu,” tuturnya.

Nah, secara garis besar, lanjut Siswaryudi, seperti yang dilakukan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dalam sejumlah pertemuan dengan nelayannya, sangat terasa permintaan nelayan yang butuh bantuan permodalan.

Jika dirinci, lanjut dia, beberapa kebutuhan mendesak yang terangkum adalah kebutuhan listrik gratis bagi nelayan Indonesia sangat mendesak. "Listrik itu akan dipergunakan buat cold storage,” ujar Siswaryudi.

Untuk membantu permodalan awal, lanjut dia, sebuah unit perbankan yang konsisten membantu nelayan berupa Bank Nelayan sangat dibutuhkan. Bank Nelayan ini, menurut Siswaryudi, akan menjadi bank yang menjadi pusat dari hampir semua aktivitas nelayan, mulai dari bantuan permodalan, menyimpan hasil tangkapan atau menabung dan berbagai kebutuhan lainnya.

"Bank Nelayan buat menyediakan modal kerja melaut dengan syarat mudah dan bunga murah. Itu sangat penting,” ujarnya.

Peran pemerintah untuk mengontrol atau mengendalikan mutu dan harga ikan, lanjut Siswaryudi, sangat penting. Hal itu langsung berpengaruh bagi pendapatan dan kehidupan ekonomi nelayan Indonesia. "Terutama dalam hal stabilisasi mutu dan harga ikan,” ucapnya.

Sedangkan program asuransi nelayan dengan premi yang murah, yang kini sedang mulai dijalankan oleh pemerintah, perlu dipikirkan bagaimana agar nelayan sanggup membayar preminya. "Sebab, asuransi itu ternyata bukan asuransi gratis bagi nelayan. Mereka tetap menjadi peserta asuransi dengan premi yang murah. Bukan gratis loh. Dan pertanggungannya itu ya harus yang wajar dong,” ujarnya.

Tidak bisa dipungkiri, lanjut dia, nelayan pasti tidak bisa lepas dari kehidupan laut. Sebab mata pencaharian dan kehidupan sehari-harinya adalah melaut dan menangkap ikan.

Untuk kebutuhan melaut, kata Siswaryudi, nelayan kini sangat kesulitan mengeluarkan cost membeli bahan bakar. "Saya kira, program nelayan melaut dari memakai solar ke gas itu harus terus dikembangkan. Supaya biaya operasinal menjadi rendah sehingga keuntungan Nelayan meningkat. Pemakaian gas oleh nelayan juga menurunkan kadar pencemaran udara,” tandasnya.
Sumber : ekbis.rmol.co

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply