Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Australia Akui Bukti Umur dalam Kasus Nelayan RI Ali Yasmin Tak Kuat

Pemuda Maritim  - Kejaksaan Australia mengakui bukti yang digunakan untuk menentukan nelayan Indonesia Ali Yasmin sudah dewasa dan bukan lagi di bawah umur tidak dapat diandalkan. Bukti itu dipakai dalam kasus penyelundupan manusia yang menjerat Ali Yasmin 5 tahun tahun penjara. Kini pengadilan di Australia mempertimbangkan apakah akan membatalkan hukuman tersebut.

Ali dihukum penjara pada tahun 2010 selama lima tahun di penjara super ketat di Australia Barat, meskipun ada dokumen yang menunjukkan dia masih berumur 13 tahun pada saat ditangkap.

Dia berasal desa nelayan di Pulau Flores, dan direkrut sebagai juru masak pada perahu penyelundup manusia. Perahu itu dihentikan otoritas Australia saat mengangkut 55 warga Afghanistan di dekat Ashmore Reef pada Desember 2009.

Kini Ali berupaya hukumannya dibatalkan melalui mengadilan banding. Upaya ini dianggap ujian bagi 14 orang Indonesia lainnya yang sudah dibebaskan bersama Ali tahun 2012 oleh Jaksa Agung Nicola Roxon saat itu karena adanya keraguan tentang umur mereka.

Kebijakan Commonwealth saat itu menyatakan setiap awak perahu penyelundup manusia yang masih di bawah umur harus dikembalikan, bukannya menghadapi dakwaan hukum.

Dalam persidangan di Pengadilan Banding Australia Barat hari Selasa (21/2/2017), Kate Gregory dari Kejaksaan Australia mengatakan bukti yang menyebutkan Ali berumur lebih 18 tahun pada saat kasusnya di sidangkan waktu itu, "tidak kuat". Artinya, bukti-bukti itu berasal dari sumber yang tidak dapat diandalkan.

Setelah ditangkap pada 2009, Departemen Imigrasi menemukan Ali masih anak-anak. Tapi hal ini ditolak oleh Kepolisian Australia yang menggunakan hasil X-ray pergelangan untuk menentukan bahwa Ali orang dewasa.

Dia kemudian diputus bersalah meskipun ada dokumen akte kelahiran dan Kartu Keluarga dari Indonesia yang menyebutkan usianya baru 13 tahun pada saat ditangkap.

Dokumen-dokumen tersebut tidak pernah diajukan sebagai bagian dari pembelaan Ali saat itu.

Pengadilan banding kini meminta pengacara Ali dan pihak jaksa untuk mengajukan pendapat apakah peradilan ini berwenang membatalkan vonis Ali tahun 2010 dan membebaskannya, meskipun saat itu dia sudah mengaku bersalah.

Kate Gregory mengatakan jika hal ini dikembalikan ke Pengadilan Negeri atau Pengadilan Anak untuk diadili ulang, pihaknya akan menghentikan kasusnya dengan pertimbangan tidak boleh mendakwa secara hukum bagi anak di bawah umur dalam kasus penyelundupan manusia.
Kompensasi

Jika hukuman Ali itu dibatalkan, maka akan membuka peluang adanya ganti rugi terhadap Pemerintah Federal.

Ali dibebaskan tahun 2012, setelah liputan media yang luas atas kasusnya, lalu dideportasi ke Indonesia.

Pada bulan Juli 2014, pengacaranya mengajukan hak kliennya untuk banding terhadap hukuman tersebut.

Keputusannya berada di tangan Jaksa Agung George Brandis selama lebih dari satu tahun.

Pengacara Ali Yasmin kemudian membawa kasus ini ke Pengadilan Federal dalam upaya memaksa Jaksa Agung Brandis segera membuat keputusan.

Pada November 2015, Brandis mengakui adanya keraguan tentang keandalan X-ray pergelangan tangan untuk menentukan umur Ali Yasmin. Hal ini menimbulkan isu yang harus ditangani di pengadilan dan menyerahkan masalahnya ke Pengadilan Tinggi Australia Barat.

Pengadilan hari ini membalik keputusannya dalam masalah itu.

Diterbitkan Pukul 15:00 AEST 21 Februari 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris.
Sumber : news.detik.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply