Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » » Ketua Umum APMI; Pemuda Harus Aktif Menjaga Lingkungan Laut

 
Sebuah penelitian yang dipimpin oleh ilmuan Prof. Jenna R. Jambeck yang dilansir dari sciencemag.org, dalam penelusurannya mencari asal mula sampah plastik yang berada di laut mencakup 192 negara pesisir di dunia. Hasil penelitian telah mencatat  bahwa sampah plastik masuk ke lautan sekitar 12,7 juta metrik ton. Asal mula sampah ini bisa dari limbah rumah tangga atau pun industri yang belum dikelola dengan baik oleh negara selaku penyelenggara kehidupan rakyatnya.

Hal yang cukup mencengangkan adalah masuknya Indonesia sebagai negara ke-2 penyumbang sampah plastik terbanyak ke laut, setelah Tiongkok. Hal ini tentunya menjadi keprihatinan tersendiri terutama mengingat visi pemerintah saat ini adalah menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Patut dipertanyakan kembali bagaimana misi ini dan sejauh mana progres perwujudan visi tersebut.  

Sampah plastik akan memberikan dampak terhadap biota-biota laut dan rusaknya ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove, yang mana ekosistem tersebut tempat dimana ikan memijah. Plastik telah ditemukan di hampir setiap tingkat rantai makanan laut. Tercatat dilautan pasifik, massa pelastik melebihi populasi plankton.


UNCLOS Part XII Article 192 General Obligation: ‘States have the obligation to protect and preserve the marine environment’
Article 194: ‘States shall take, individually or jointly as appropriate, all measures within this Convention that are necessary to prevent, reduce and control pollution of the marine environment from any source’


Ketua Umum APMI, Renaldi Bahri, merujuk UNCLOS Pasal 192, konvensi ini menegaskan bahwa setiap negara mempunyai kewajiban untuk melindungi dan melestarikan lingkungan lautnya. Kewajiban ini kemudian disusul dengan pemberian hak kepada negara atas pengelolaan sumber daya alamnya di laut. Saat ini perlu ada nya Momentum untuk membangun kesadaran masyarakat luas akan pentingnya prinsip 3R (reduce, reuse dan recycle) dalam pengelolaan sampah. Karena dalam pasal 194 UNCLOS mewajibkan setiap negara untuk mencegah (prevent), mengurangi (reduce), dan mengendalikan (control) pencemaran lingkungan laut yang terjadi di wilayahnya.

"Sampah di laut harus ada pengolaan yang baik, dengan prinsip reduce, reuse , recycle. Jika sampah dilaut hanya dikumpulkan kembali, tanpa ada pengeloaan yang baik tidak menutup kemungkinan sampah tersebut kembali lagi ke laut. Perlu ada inovasi, gagasan serta kampanye anak muda dalam membangun pengelolaan sampah yang berkelanjutan". Tegas Renaldi

Lanjut Renal, disinilah peran Pemuda dalam ikut serta menjaga lingkungan laut serta ekosistem perairan yang bebas sampah merupakan suatu bentuk aktif maupun aktifitas pemikiran yang konstruktif dalam mengantarkan Indonesia Bebas Sampah 2020.

"Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) mendukung kesuksesan “SEA CLEAN UP INITIATIVE” yaitu kegiatan yang diusung KEMENLHK dengan melalui sosialisasi menggerakan pemuda dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar turut andil dalam menjaga lingkungan dari sampah dan menjaga kebersihan laut sebagai ruang penghidupan nelayan dan masyarakat pesisir". jelas Renaldi

Sambung Renaldi, APMI sangat mengapresiasi langkah KLHK yang akan berencana menggelar program kegiatan pembersihan sampah dilaut, dengan disiapkannya kapal sampah dan pengelolaan sampah plastik. 

"APMI mendukung menteri LHK untuk Mempersiapkan pengembangan Rencana Aksi Nasional terkait persoalan sampah plastik di laut yang akan dibawa ke World Oceans Summit di Bali". Tutup Renaldi

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply