Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Musim Paceklik, Ratusan Nelayan Berharap Dana Sosial

Pemuda Maritim - Ratusan nelayan di tiga kampung nelayan Kota Cirebon, dua bulan ini nyaris menganggur tak bisa melaut. Tingginya gelombang yang mencapai 3 meter dan kuatnya tiupan angin, membuat nelayan harus menahan diri untuk tidak melaut.

Namun kehidupan ekonomi yang semakin terjepit, karena terlalu lama tidak melaut, membuat sebagian nelayan nekad tetap melaut. Menurut Ketua Rukun Nelayan Kesenden, Sofyan, meski tidak sebanding antara resiko dengan penghasilan, namun karena kondisi ekonomi yang terjepit, memaksa sebagian nelayan nekat melaut.

"Hanya untuk sekedar membawa pulang uang Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu, nelayan harus mempertaruhkan nyawanya," katanya, Rabu, 1 Februari 2017.

Menurut dia, jenis perahu nelayan Kota Cirebon, baik di kampung nelayan Kesenden, Pesisir maupun Cangkol, memang perahu kecil semacam sope yang tidak bisa mengimbangi gelombang tinggi dan tiupan angin yang kuat. "Jangkauan melaut kami juga hanya seputaran perairan Cirebon. Paling jauh, sekitar 3 km dari pantai," katanya.

Sofyan berharap Pemerintah Kota Cirebon berbaik hati mengalokasikan anggaran bantuan atau dana sosial bagi nelayan kecil, selama musim paceklik, seperti saat ini.
Musim paceklik atau masa sulit bagi nelayan, katanya, rutin dialami setiap tahun, setidaknya tiga bulan. Dimulai awal Desember dan berakhir awal Maret.

"Kami yakin kalau ada niat baik, anggarannya pasti ada, karena jumlah nelayan di tiga kampung nelayan di Kota Cirebon, tidak lebih dari 1.000 orang," tuturnya.

Sofyan mengungkapkan, akibat sulitnya hidup, hampir semua nelayan terjerat utang kepada rentenir. Jeratan utang nelayan kepada rentenir, menurut dia, biasanya dimulai saat masa paceklik seperti sekarang ini. Padahal jeratan utang itu, seringkali tidak ada akhirnya, karena renternir mengenakan sistem bunga berbunga.

"Kalau kami tidak bisa nyicil dan tidak bisa bayar bunga, biasanya sampai seumur hidup, utang tidak bisa terbayar. Utang yang semula cuma ratusan ribu, bisa membengkak menjadi puluhan juta, yang tidak mungkin bisa dilunasi nelayan kecil," katanya.

Keyakinan Sofyan, kalau pemkot sebenarnya bisa menggangarkan, asal ada niat baik, karena seingat Sofyan, tahun 2004 pernah ada anggaran bantuan sosial untuk nelayan saat paceklik. "Namun waktu itu nilainya Rp 100 ribu per bulan," katanya.

Sementara itu hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan Maharani Dewi tidak bisa dikonfirmasi. Ketika dihubungi melalui telefon selulernya tidak diangkat, meski ada nada panggil. 
Sumber : www.pikiran-rakyat.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply