Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Nelayan Ramah Lingkungan

Pemuda Maritim - Sejak Menteri Kelautan dan Perikanan mengeluarkan kebijakan melarang penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (trawl) dan pukat tarik (seine nets) di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia, terus berkembang pro kontra dari berbagai kalangan. Namun, secara meluas kebijakan tersebut sesungguhnya demi kepentingan bangsa. Jadi, mereka yang menolak tak perlu berlama-lama karena pemerintah sejatinya akan memberi solusi terbaik.

Untuk itu, para nelayan dianjurkan mengganti dengan alat tangkap ramah lingkungan seperti alat penangkap ikan jaring lingkar (surrounding nets), penangkap ikan penggaruk (dredges), alat penangkap ikan jaring angkat (lift nets).

Pengoperasiannya dengan mengangkat jaring untuk menangkap ikan pelagis. Penangkap ikan berupa alat yang dijatuhkan atau ditebarkan (falling gear) untuk menangkap ikan di perairan dangkal. Ikan bisa terus berkembang biak dan tidak merusak ekosistem laut.

Pemerintah juga memberi pelatihan nelayan agar menggunakan alat tangkap ramah lingkungan. Seperti dilakukan Badan Pengembangan SDM dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan (BPSDMP KP) bersama Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) yang melatih di 12 kabupaten/kota di sembilan provinsi.

Sementara, sejumlah organisasi nelayan seperti Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Lampung juga terus melakukan sosialisasi larangan penangkapan ikan dengan alat cantrang. Intinya, cantrang dapat merusak ekosistem laut. Sebab, ikan dewasa hingga kecil dapat langsung ditangkap, sehingga tidak ada pengembangbiakan kembali bila.

Tak cuma itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti membuka peluang impor jaring apabila produksi dalam negeri terhambat.

Dia juga mengemukakan sejumlah pemda sudah mulai berkomitmen membantu proses penggantian alat tangkap yang dinilai lebih ramah lingkungan tersebut. Berbagai solusi yang segera memang perlu terus dipikirkan karena tidak dimungkiri, penggantian alat tangkap ramah lingkungan sangat penting dalam melestarikan sumber daya perikanan di lautan Indonesia.

Labih dari itu, solusi yang ditawarkan pemerintah harus dilakukan berbagai pihak terkait secara sistematis, mulai dari penggantian alat tangkap, pelatihan, fasilitasi administrasi perizinan, pendampingan teknis dan pembayaran, serta pendampingan pascatangkap.

Pemerintah harus mempercepat, memperluas dan memastikan kegunaan alat tangkap pengganti lebih ramah lingkungan. Ini penting dalam menunjang kebutuhan hidup nelayan dan anggota keluarganya.

Sampai kini kita tak ingin menganggap pemerintah terlambat dalam memberikan solusi sekalipun terdapat sekitar 45 persen kapal ikan yang tidak bisa beroperasi. Demikian pula soal tambahan kuota impor khusus untuk memenuhi produksi jaring alat tangkap diharapkan hanya sebagai upaya jangka pendek.

Sekalipun demikian, impor dinilai hanya boleh dilakukan bila potensi jaring dalam negeri yang terdapat di berbagai daerah sudah dihitung dan dipetakan terlebih dulu. Utamakan produk dalam negeri sebelum membuka keran impor.

Agar program membangun perikanan dan kelautan berkelanjutan, pemerintah harus benar-benar konsisten dan terukur. Artinya, antara potensi dan realitas harus bisa direalisasikan sesuai dengan target.

Kita menunggu pemerintah mewujudkan Indonesia yang memiliki potensi lestari ikan laut sebesar 7,2 persen dari total potensi ikan laut dunia sebagai bangsa yang ramah lingkungan. Program membangun nelayan ramah lingkungan adalah harapan kita semua. 
Sumber : www.koran-jakarta.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply