Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Dua Tahun Nelayan Tuna Cilacap Paceklik

Pemuda Maritim - Kesulitan melaut yang dialami nelayan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah hampir selama dua tahun terakhir akibat gelombang tinggi dan cuaca yang tak menentu menyebabkan paceklik panjang. Hal yang sama dialami nelayan tuna dan cakalang.

“Saat ini tak setiap hari ada kapal penangkap tuna yang melakukan bongkar muat. Sebab banyak perahu yang libur melaut. Para pemilik kapal takut rugi kalau tetap melaut dalam kondisi cuaca buruk,” kata Pengurus Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dermaga III Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) Ruliyanto, Rabu (15/3).

Ruli menjelaskan, dalam kondisi normal biasanya sebuah kapal dengan bobot 30 gross ton (GT) bisa mendapat lima sampai enam ton tuna dan atau cakalang. Namun, dalam situasi tak menentu seperti ini, satu kapal hanya mendapat maksimal empat ton.

“Tadi dua kapal sekitar 8 ton. Perhari, tapi kadang ke sananya kan kosong. Operasinya kan enam bulan kalau tuna. Kalau cakalang satu bulan. Dua tahun ini paceklik,” ujarnya.  “Ya perhari segitu. Tapi kan yang berlabuh tidak setiap hari. Besok bisa saja kosong tidak ada yang bongkar muat,” tuturnya.

Selain itu, cuaca buruk juga menyebabkan waktu melaut yang semestinya bisa dilakukan dalam dua hingga tiga bulan terpaksa dilakukan hingga empat enam bulan karena minimnya hasil tangkapan.

Namun begitu, Ruli berharap musim panen ikan tahun ini tidak terganggu cuaca. Kata dia, saat angin timur datang, biasanya banyak muncul ikan di perairan Cilacap. Tahun 2016 lalu, musim angin timur bersamaan dengan kemarau basah yang kerap menyebabkan badai.

Ruli mengungkap musim angin timur biasanya dimulai pada bulan Mei. “Tahun 2016 sepanjang musim hampir tidak ada panen ikan. Moga-moga tahun ini musimnya bagus,” ungkapnya.

Tak hanya nelayan ikan tuna, nelayan tradisional berperahu kecil pun mengalami nasib serupa. Seorang nelayan tradisional, Suparno mengatakan cuaca buruk menyebabkan hasil tangkapan nelayan turun. “Nelayan tak bisa melaut dengan waktu dan jarak normal. Sebab, tiap kali gelombang tinggi datang, harus secepatnya merapat ke pantai,” tutur Suparno.

Suparno menjelaskan, gelombang tinggi bisanya mulai terjadi pada siang menjelang sore hari. Itu sebab, nalayan perahu kecil hanya berani melaut mulai dinihari hingga siang. Jaraknya pun hanya sekira lima mil laut. Dengan begitu, ketika terjadi cuaca buruk, jarak ke pantai tak terlalu jauh.

“Kami melautnya dengan sistem jolokan. Jarak dekat dan waktunya juga pendek. Hasil tangkapannya ya sedikit,” jelasnya.
Sumber : www.gatra.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply