Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » » » » Kerusakan Terumbu Karang Raja Ampat Meluas 8 Kali Lipat

Gambar. MV Caledonian Sky

Jakarta, - Pengukuran lapangan menunjukkan kerusakan terumbu karang di Raja Ampat akibat aktivitas kapal pesiar Caledonian Sky mencapai 13.500 meter persegi. Kerusakan terjadi di kawasan zona inti yang bernilai ekologi dan keanekaragaman karang serta ikan yang tinggi. ”Data ini dihitung tim dari CI (Conservation International) Indonesia, Pemkab Raja Ampat, dan Universitas Negeri Papua,” kata Ketut Sarjana Putra, Vice President CI Indonesia, Senin (13/3), di Jakarta. CI Indonesia bekerja di Raja Ampat sejak 2004. Area kerusakan ini 8,5 kali lebih luas dari perkiraan semula yang ditaksir seluas 1.600 meter persegi. 

Kerusakan besar disebabkan kapal pesiar berukuran 4.000 ton ini diseret kapal penarik (tug boat) saat terjebak pasang surut di rataan karang di seberang Kri Eco Resort Raja Ampat pada 4 Maret 2017. Ketut mengatakan, lokasi kerusakan terumbu karang akibat kapal Caledonian Sky berada di zona inti Kawasan Konservasi Perairan Daerah Selat Dampier. 

Lokasi ini terlarang bagi aktivitas penangkapan karena menjadi area ketahanan pangan bagi Raja Ampat dan sekitarnya. Lokasi ini dipilih menjadi zona inti karena menjadi tempat memijah aneka jenis ikan komersial. Selain itu, keanekaragaman koral dan ikan sangat tinggi. ”Di situ tempat kami pertama menemukan spesies hiu berjalan. Itu juga tempat pertama mengerjakan pemetaan karang di Raja Ampat,” kata Ketut yang saat itu Direktur Kelautan CI Indonesia. 


Karena keunikannya, di kawasan Selat Dampier terdapat 50 titik selam ikonik, antara lain blue mangrove, eagle rock, manta point, dan cape kri. Ketua Asosiasi Jaringan Kapal Pesiar Suryani Mile menyesalkan kerusakan karang akibat kapal Caledonian Sky tersebut. Ia menyarankan agar kapal-kapal yang memasuki areal konservasi seperti Raja Ampat didampingi kapten lokal. ”Ada wilayah tertentu yang tidak familiar,” katanya. Koordinator Program Pariwisata Bahari Bertanggung Jawab WWF Indonesia Indarwati Aminuddin mengatakan, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa area konservasi sensitif akan aktivitas wisata. ”Terumbu karang butuh waktu untuk tumbuh. Terumbu karang itu ’jualan’ wisata kita. Jadi, kalau rusak, kita juga yang kehilangan potensi ekonominya,” katanya.

Sumber: Kompas

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply