Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Ombak Tinggi Ancam Nelayan

Perubahan cuaca yang tidak menentu seperti saat ini dikeluhkan para nelayan di Kecamatan Pondok Kelapa. Betapa tidak, akibat cuaca ekstrem serta ombak tinggi yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini membuat nelayan takut melaut.

“Beberapa minggu terakhir, cuaca memang tidak menentu. Kadang air laut tampak tenang dan tanpa diduga seketika berubah menjadi besar. Kondisi seperti inilah yang membuat para nelayan takut melaut,” ungkap Hermansyah (53), warga Desa Pondok Kelapa yang juga berprofesi sebagai nelayan kepada Bengkulu Ekspress, kemarin.

Dikatakan Hermansyah, karena tidak memiliki mata pencarian lain, tidak sedikit pula nelayan yang nekat untuk mengadu nasib melawan keganasan laut perairan Pondok Kelapa.

“Meski sempat berusaha untuk mencoba, nelayan pasti akan kembali ke daratan ketika cuaca sedang tak bersahabat. Sekecil-kecilnya ombak di laut Kecamatan Pondok Kelapa ini, ombak tersebut tetap saja lebih besar dibandingkan dengan gelombang ombak di perairan lainnya,” tambah Hermansyah.

Pria yang juga menjabat selaku Ketua Persatuan Nelayan Pondok Kelapa ini menuturkan, dari hasil pendataan, sebanyak 75 persen kepala keluarga (KK) berprofesi sebagai nelayan (sekitar 200 orang,red) terpaksa berhenti melaut.

“Nelayan Kecamatan Pondok Kelapa mencari ikan masih dengan menggunakan kapal yang berukuran 3 GT dan minimal dioperasikan oleh 2 orang. Kapal jenis ini tentu saja tidak bisa berbuat banyak ketika cuaca buruk,” bebernya.

Sejauh ini, kata Hermansyah, para nelayan masih menggunakan cara manual untuk mengetahui kondisi alam. Sebab itulah, pihaknya berharap ada perhatian dari Pemerintah Daerah (Pemda) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Benteng untuk melakukan pemantauan dan deteksi dini terhadap potensi bencana. Seperti badai  dan angin topan yang akan mengancam keselamatan para nelayan.

“Sampai saat ini, pemberitahuan dari Pemda terkait kondisi cuaca memang belum ada,” akunya.

Selain peringatan dini, pihaknya juga mengharapkan ada dibentuknya mercusuar yang bisa menjadi penunjuk arah bagi nelayan ketika berlayar.

“Kami biasa berlayar selama 3-4 hari di tengah laut lepas. Ketika cuaca seketika memburuk, terkadang kami kesulitan untuk menemukan arah yang tepat untuk berlabuh. Dengan adanya mercusuar, kami bisa kembali dengan berpedoman pada lampu indikator pada mercusuar,” tandasnya.
Sumber :  bengkuluekspress.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply