Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Sekotong Jadi Percontohan Pembiayaan Inovatif Petani Dan Nelayan Di Indonesia

Pemuda Maritim -  Sekotong Barat menjadi wilayah percontohan yang diusung oleh Bank Indonesia (BI) bekerjasama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) dalam mengembangkan skema pembiayaan inovatif bagi para petani dan nelayan.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Pengembangan UMKM BI, Yunita Resmi Sari, terdapat 27 petani garam dan nelayan di Sekotong yang menjadi target penyaluran dana sebesar Rp 100 juta dari IFAD.

“IFAD menyalurkan dana ke Koperasi Bina Laut di Sekotong. Selanjutnya baru disalurkan ke nelayan dan petani, tenor pembiayaan sendiri selama 12 bulan dengan plafon sebesar Rp 4 juta,” kata Yunita di kawasan wisata Sengigi Lombok Barat, Rabu, 22 Maret 2017.

Ia juga menjelaskan  IFAD hanya mendanai  pilot project saja. Ke depannya, sumber dana bisa berasal dari dana internal, namun polanya saja yang tetap diterapkan dan dikembangkan dalam jangka waktu selanjutnya.

Menurut Yunita, dipilihnya Sekotong menjadi percontohan karena mendapat rekomendasi dari  Kementerian dan dinas terkait.
Baca juga:  Danrem 162/WB Instruksikan Babinsa Turun Bantu Petani

“Sebenarnya di NTB bukan fokus ke petani garam, tapi lebih ke nelayannya. Dari Kementerian Kelautan dan Perikanan rekomendasinya menuju ke Sekotong, dan nelayannya kebetulan berfungsi juga sebagai petani garam,” ungkapnya.

Proyek ini merupakan kerjasama antara BI dengan IFAD dalam memberdayakan para petani dan nelayan. Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang menjadi pilot project selain  Tiongkok dan Filipina. Dalam praktek pengembangan jasa keuangan di sektor pertanian dan pedesaan yang berkelanjutan melalui aplikasi best practice yang sesuai dengan kondisi masing-masing negara.

Saat ini, proyek ini memasuki tahap ketiga. Yaitu diseminasi hasil proyek dan dan merumuskan arah untuk mendorong penerapan best practices.

Terdapat empat  fase pelaksanaan proyek tersebut, yang berlangsung dalam rentang  2014-2018. Fase pertama yang dimulai sejak 2014 adalah identifikasi best practices jasa layanan keuangan pedesaan yang dilaksanakan di lima negara (Thailand, Indonesia, China, Philipina, dan India).

Fase kedua (2015-2016) merupakan pilot project dari best practices yang dilaksanakan di tiga negara (Indonesia, China, dan Philipina).
Baca juga:  Danrem Turun ke Sawah, Ikut Panen Bersama Petani

Fase ketiga merupakan diseminasi hasil pilot project dan dilanjutkan fase keempat yaitu diseminasi hasil project dalam bentuk program pertukaran kunjungan (exchange visit program).

Dampak positif pilot project ini di Indonesia antara lain peningkatan akses masyarakat pedesaan/pesisir terhadap jasa keuangan (pembiayaan, tabungan dan asuransi). Penerapan skema pembiayaan inovatif (tanpa agunan, suku bunga rendah), serta peningkatan kinerja usaha petani/nelayan peserta proyek.

Sementara itu, Perwakilan Bappenas Pusat, Gelwyn Jusuf mengatakan pembinaan tidak hanya dilakukan kepada para nelayan dan petani. Namun juga kepada keluarga nelayan dan petani.

“Kita melakukan pendekatan ke keluarganya, istrinya misalnya, dari sana mulai kita latih kemampuannya untuk mengembangkan produknya agar bisa diolah,” ujarnya. 
Sumber : www.suarantb.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply