Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Menjawab Keraguan Perbankan di Bisnis Maritim lewat P&I Club


PEMUDA MARITIM - Stigma saat ini melihat paradigma perkembangan maritim khususnya dibidang pelayaran masih banyak  pihak dari bisnis perbankan  takut dan khawatir akan adanya biaya-biaya tak terduga dan timbul dalam bisnis pelayaran kapal. Oleh karena itu perlu bagi Praktisi maritim menyumbangkan solusi yaitu dengan dibentuknya banyak club-club yang disebut dengan P&I Club. Agar menarik minat dari pihak perbankan untuk turut andil dalam bisnis yang membawa hajat hidup bagi orang banyak ini.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa semua bentuk perlindungan sangat diperlukan untuk keselamatan kerja pagi pelaut dan keselamatan kapal, dan ganti rugi yang diperlukan sebagai kompensasi bila terjadi hilangnya nyawa manusia baik pelaut atau penumpang kapal dari kegiatannya di atas kapal, perlindungan terhadap lingkungan laut akibat pencemaran dari kegiatan kapal dan perlindungan property kapal dan pelabuhan.

Biasanya pemilik kapal bersatu dan berkelompok membuat perkumpulan (semacam arisan pemilik para pemilik kapal atau kebersamaan pemilik kapal yang dinamakan kelompok Protection and Indemnity). Protection and Indemnity yaitu dikenal P&I Club. P&I Club sebenarnya merupakan perkumpulan yang anggota-anggotanya terdiri para pemilik kapal untuk tujuan yang mulia yaitu mendukung tindakan keselamatan kapal dan keselamatan para pekerjanya dan penumpang diatas kapal serta kesejahteraan para pelaut dengan menyediakan kebutuhan-kebutuhannya yang dipersyaratkan sesuai ketentuan STCW1995, STCW Manila convention dan MLC 2006.

Protection and Indemnity yang dikenal di lapangan sebagai perlindungan dan ganti rugi (P&I Club) adalah perkumpulan bukan pemerintah dan perkumpulan sebagai pendukung kegiatan jasa asuransi kapal dan tidak berorientasi mencari keuntungan, atau perkumpulam ini semacam koperasi yang anggota-anggotanya bisa terdiri dari para pemilik kapal, para operator kapal, para penyewa (pencharter) kapal, dan para pelaut di bawah perusahaan anggotanya, dll. Oleh karena itu P&I Club ini diharapkan bisa dipayungi oleh pihak otoritas pemerintah.

Dengan demikian keberadaan P&I Club ini penting sekali sebagai mitigasi pihak perbankan. Terdapat tiga elemen penting dalam industri pelayaran nasional yaitu kapal, pelaut dan kargo (muatan kapal).

Salah satu unsur yang terkait secara langsung dengan ketiga elemen tersebut di atas adalah soal “Risiko” yang senantiasa berpotensi timbul dalam proses pengangkutan muatan oleh kapal sebagai sarananya dan operasional yang dikerjakan oleh para pelaut.

Tentunya perbankan harus mengetahui bahwa karena faktor “Risiko” tersebut, maka pada suatu saat pemilik kapal akan dapat menemui kerugian yang bisa kecil dan bisa juga cukup besar jumlahnya jika kapalnya mengalami kecelakaan atau jika kapal merusak lingkungan laut sebagai mana kejadian di Raja Ampat, jika kapal dan muatan mengalami kerusakan atau hilang. Juga, risiko terhadap kehidupan dan keselamatan para pelautnya. Oleh karena itu asuransi P&I merupakan aspek yang sangat penting dalam kegiatan bisnis pelayaran.

Perlu diketahui oleh perbankan bahwa dalam bisnis pelayaran, unsur yang paling berharga antara lain kehidupan dan keselamatan manusia, dimana manusia dapat berisiko karena sakit, terjadinya cedera yang menimpa manusia akibat kecelakaan atau bahkan kematian personil kapal karena adanya bahaya yang menimpanya.

Perbankan bisa mempertimbangkan P&I Club sebagai jaminan. P&I Club tersebut diharapkan dapat memberikan kompensasi dalam bentuk asuransi karena penyebab-penyebab yang disebutkan di atas kepada para pelaut. Tidak hanya membantu para pelaut dalam masa-masa sulitnya tetapi juga membantu keluarga para pelaut jika terjadi kematian yang menimpa pelaut misalnya soal jaminan sosial dan penghasilan pelaut.

Adapun hal-hal  yang bisa di-cover oleh Asuransi P&I yang bisa dijaminkan ke perbankan adalah sebagai berikut:

  1. Klaim bila ABK yang terlibat dalam kegiatan operasional kapal terjadi cedera pada diri pribadinya, bila ABK terjangkit penyakit akibat bekerja di atas kapal dan bila ABK tertimpa kecelakaan dan menyebabkan kematian, dan lain-lain.
  2. Klaim bila terjadi kemasukan penumpang gelap (Stowaway) dan klaim biaya bagaimana pengaturan repatriasinya.
  3. Klaim atas muatan kapal yang mengalami kerusakan atau kehilangan.
  4. Klaim kewajiban yang harus dijamin akibat terjadinya tabrakan kapal.
  5. Klaim kerusakan benda-benda atau objek terapung di laut (misalnya jetty, dermaga, binatang-binatang laut, Rig, fasilitas perikanan dan lain-lain)
  6. Klaim atas kewajiban sesuai dengan kontrak penarikan kapal (towage) yang telah disepakati
  7. Klaim pembersihan bangkai kapal yang ada di dasar laut.
  8. Klaim atas operasi dan tindakan penyelamatan kapal dan personil yang mengalami musibah di laut
  9. Klaim atas kewajiban perdata misalnya karena terjadinya polusi atau tumpahan minyak akibat kegiatan kapal.
  10. Klaim adanya denda-denda yang timbul atas kegiatan kapal.

Dengan demikian dunia perbankan nasional akan terobati rasa takutnya atas biaya-biaya yang akan timbul dan tak terduga dan tidak dapat diprediksi selama operasi bisnis pelayaran kapal dan muatannya. Dan para pekerja yang mengabdi di bidang kelautan bisa betul betul merasakan kesejahteraan tanpa harus khawatir memikirkan masa depannya. Sumber : maritimnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply