Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Pantas Banyak Nelayan Buru Benih Lobster, Ternyata Segini Pendapatannya

 Pemuda Maritim - Suasana pesisir pantai selatan Malang mulai Desa Sendangbiru, Kecamatan Sumbermanjing Wetan hingga Kondang Merak, Kecamatan Bantur, tampak lengang, Rabu (5/4) sore hingga Kamis (6/4) pagi. Beberapa perahu nelayan bermesin tempel berlabuh di sekitar garis pantai. Hanya beberapa perahu pemancing yang terlihat beraktivitas.

Kondisi ini berbalik 180 derajat dengan beberapa hari sebelumnya. Puluhan, bahkan ratusan perahu, dijangkar dengan jarak sekitar 500 meter dari bibir pantai mulai pukul 17.00 hingga pukul 04.00 atau sekitar 11 jam.

Setiap perahu dilengkapi lampu sorot terus menyala sepanjang malam. Suasana ini digambarkan penduduk setempat, tampak seperti pasar apung di malam hari.

Perahu-perahu itu milik nelayan yang mencari benih lobster. Penangkapan benur lobster sejatinya melanggar Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan RI 1/2015 tentang Penangkapan Lobster, Kepiting, dan Rajungan serta Pasal 88 UU 31/2004 tentang Perikanan.

Permen itu membatasi penangkapan lobster yang panjang karapas (cangkang keras yang melindungi tubuh) kurang dari 8 cm. Para nelayan menangkap bayi-bayi lobster yang panjangnya sekitar 1 cm untuk diekspor ke Singapura. Informasinya, benih lobster itu akan dibudidaya di Vietnam.

Perburuan benur lobster di pantai selatan Jatim berlangsung sejak setahun terakhir. Para nelayan tergiur berburu benur lobster, karena pendapatannya sangat besar. Di pasar ekspor, harga benih lobster super bisa mencapai Rp 200.000 per ekor.

Seorang nelayan Sendangbiru berinisial YN mengatakan bisa menjaring benur lobster hingga 700 ekor dalam sekali penangkapan.

“Tiap ekor benur lobster dihargai Rp 30.000 untuk jenis mutiara dan Rp 6.000 untuk jenis pasir,” katanya kepada SURYAMALANG.COM.

Dengan tangkapan 700 ekor benur lobster, nelayan bisa memperoleh pendapatan fantastis. Menurut YN, lima persen dari tangkapan atau sekitar 35 ekor adalah benur lobster mutiara. Jika dikalikan sesuai harga yang dipatok 30.000 per ekor, totalnya Rp 1,05 juta.

Sementara untuk benur lobster pasir sebanyak 665 ekor setara dengan Rp 3,99 juta. Jika ditotal, dengan bekerja di laut selama sekitar 12 jam, seorang nelayan bisa meraup pendapatan Rp 5,04 juta!.

Menangkap benur juga tidak butuh keahlian khusus. Alat yang dipakai adalah lembaran kasar berbentuk melingkar dengan beberapa lipatan berdiameter di bawah satu jengkal tangan orang dewasa. Lembaran itu bisa dari kertas semen, zak, atau lapisan lain yang ditempelkan di sebuah paranet.

Setelah jaring paranet diturunkan, nelayan tinggal menunggu waktu pengangkatan jaring esok harinya. Sembari menunggu datangnya subuh, mereka bisa bersantai di atas perahu. Cara ini jauh lebih mudah dibandingkan menangkap ikan yang menguras tenaga dan biaya.

“Benur (lobster) tinggal di daerah yang dasarnya berpasir. Airnya bening atau keruh, tidak masalah,” ungkapnya.

Nah, daerah dasar laut yang berpasir berada di sekitar 500 meter dari bibir pantai atau pulau. Dengan begitu, biaya yang harus dikeluarkan nelayan untuk mencari benur juga lebih murah.

YN menjelaskan modal yang harus dibawa nelayan penangkap benur dalam sekali melaut, yakni 10 liter bensin untuk genset, 5 liter solar, dan rokok setara Rp 100.000.

Lain lain, Aral Subagyo memilih mencari ikan saat musim benur sedang ramai. Biaya nelayan ikan untuk melaut lebih tinggi, yaitu 12 liter bensin untuk genset, 20 liter solar, dan rokok setara Rp 200.000.

“Hasil melaut ikan dari pukul 2 siang sampai 9-10 pagi adalah 1,5 kuintal ikan yang harganya rata-rata Rp 12.000 per kilogram,” katanya.

Bila dihitung, hasil melaut ikan dengan waktu yang lebih banyak dan biaya yang tinggi hanya mendapatkan Rp 1,8 juta per malam. Dengan perbandingan pendapatan itu, tak mengherankan apabila banyak nelayan memilih berburu benur lobster ketimbang mencari ikan.

Nelayan lainnya, YD mengaku tertarik mencari benur lobster karena musim paceklik ikan terjadi sejak sekitar empat bulan terakhir. Itu sebabnya, saat ada pengepul butuh pasokan benur lobster, ia bergegas mencarinya.

“Penyebab ikan jarang itu anomali cuaca, musim arus, angin barat, juga gelombang pasang,” kata dia.

Jika tidak mencari benur lobster saat musim paceklik, nelayan akan menganggur. Seperti hari itu, para nelayan tidak mendapat permintaan benur dari para pengepul. Nelayan menduga, para pengepul tengah tiarap setelah ramai-ramai penangkapan kasus benur lobster dalam beberapa hari terakhir.

“Hasil (nelayan) lumayan. Tapi, yang lebih besar di pengepulnya. Saya dengar-dengar, pengepul menjual benur ke bos besar di Surabaya Rp 80.000 per ekor jenis pasir dan Rp 130.000 per ekor jenis mutiara,” kata YD.
Sumber : tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply