Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Pengepul Biasanya Memodali Para Nelayan dengan Sitem Utang

Pemuda Maritim -  Kasubag Program Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) jatim Nur Andriono menjelaskan, titik-titik perburuan benur lobster hampir merata di sepanjang pantai selatan Jatim.

“Kalau di Banyuwangi di daerah Pancer, Jember ada di Puger dan Watu Ulo, Malang mulai dari Tirtoyudo sampai Sumbermanjing, Blitar sepanjang garis pantai, Tulungagung juga sama, di Trenggalek mulai Munjungan sampai Prigi,” kata Nur Andriono, Jumat (7/4/2017).

Jika ditelusuri lebih jauh, katanya, perburuan benih lobster itu terjadi merata di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa, mulai Jatim, Jateng, hingga Jabar.

Menurutnya, DKP selama ini aktif menelusuri beberapa pola pengiriman benur lobster dari nelayan hingga ke bos besar sebelum di kirim ke luar negeri.

Benur dari nelayan diambil oleh pengepul lokal, yang merupakan jaringan bentukan pengepul besar.

Biasanya, pengepul memodali biaya nelayan melaut untuk mendapat benur lobster.

“Sebelum menyetor benur, mereka (nelayan) punya utang,” ungkapnya.

Bos-bos besar juga berperan sebagai eksportir. Mereka mengirim benih benur ke beberapa negara seperti, Vietnam, Thailand, dan Singapura.

Sedangkan media penyimpanan benih benur adalah botol air mineral atau kantong plastik transparan yang kemudian diganti media lain selama proses pengiriman.

Untuk pengiriman via bandara, misalnya, benur lobster ditaruh dalam bahan sejenis spons yang bisa menyimpan air lalu digulung.



DKP Jatim sebenarnya sudah beberapa kali menguntit jaringan bisnis ilegal ini.

Namun, petugas selalu gagal menangkap pengepul yang mengirim benur dengan cara berganti-ganti mobil.

“Kami pernah mengikuti. Itu tiga sampai lima kali ganti mobil, sebelum akhirnya ke bandara,” kata dia.

Meski selalu gagal mengikuti pergerakan pengepul, namun Nur Andriono memprakirakan bos atau pengepul besar bisnis ilegal benur lobster berada di Banyuwangi, Surabaya, dan Jakarta.

Terkait keberadaan pengepul lokal, juga diakui sejumlah nelayan di pantai selatan Malang. Bahkan, di Pantai Sendangbiru informasinya ada lima pengepul lokal.

Sayangnya sejumlah nelayan yang ditemui Surya.co.id tidak mau menunjukkan identitas pengepul lokal itu.

Apalagi, dalam beberapa hari terakhir gencar diberitakan di media massa mengenai penangkapan jaringan illegal fishing itu.

Sejak itu, para pengepul banyak yang tak datang ke Pantai Sendangbiru.

“Sekarang tidak tahu ke mana,” ujar YN, salah satu nelayan pencari benur lobster di Sendangbiru, Kecamatan Sumermanjing Wetan, Malang.

Setelah mengentas jaring penangkap benur dari laut, YN memasukkan benur dalam kantong plastik bening yang telah diisi air laut.

Benur-benur lobster yang bentuk detailnya susah dilihat secara kasat mata itu lalu dibawa ke bibir pantai.

Benur lobster yang warnanya putih-bening itu kemudian dihitung satu persatu.

Itu sebabnya, perlu waktu cukup lama jika benur lobster yang harus dihitung dalam jumlah mendekati seribu ekor.

Nelayan, kata dia, tidak mendapat utuh dari jumlah benur lobster yang ditangkap.

“Tiap 50 ekor, pengepul ditambahi satu ekor. Itung-itung kalau ada benur yang mati,” ujarnya.

Bahkan, diduga ada upeti untuk oknum petugas yang menjamin keamanan memburu lobster. Nelayan harus menyetorkan dua ekor per 10 benur lobster.

“Nelayan tidak membayar sendiri, tapi lewat pengepul,” kata sumber Surya.co.id di lapangan.
Sumber : tribunnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply